JAKARTA, Swaranusa.co – Laporan edisi ketujuh 2026 Cyber Threat Landscape Report dari perusahaan layanan keamanan siber pure-play terbesar di Asia Pasifik, Ensign InfoSecurity (Ensign), mengungkapkan bahwa model kecerdasan buatan (AI) canggih kini mampu mengeksekusi berbagai tahapan rangkaian serangan siber terhadap organisasi.
Temuan ini menegaskan bahwa tingkat aksesibilitas kemampuan ofensif siber kian terbuka lebar seiring AI menurunkan biaya operasional, waktu eksekusi, serta tingkat keahlian teknis yang dibutuhkan untuk meretas sistem.
Riset Ensign terhadap 10 model AI unggulan menunjukkan bahwa konvergensi kemampuan antara model AI dari kawasan Timur dan Barat makin merapat. Faktor biaya operasional, bukan lagi kapabilitas teknis, kini menjadi elemen penentu utama bagi para pelaku kejahatan siber.
Melalui fasilitas pengujian AI Cyber Range yang dikembangkan sejak awal 2026, Ensign mengevaluasi lebih dari 150 model AI yang beredar publik dan menyeleksi 10 model untuk diuji dalam delapan skenario tujuan serangan terkontrol.
Hasilnya, model seperti GPT-5.6 Sol (OpenAI), Claude Opus 4.8 (Anthropic), dan GLM 5.2 (Z.AI) mencatatkan tingkat keberhasilan tertinggi pada tujuh dari delapan sasaran uji.
Model Z.AI GLM-5.2 bahkan menunjukkan performa ofensif yang setara dengan GPT-5.6, namun dengan biaya operasional hanya sekitar seperlima. Kesepuluh model berhasil menembus perimeter awal jaringan.
Kendati demikian, performa AI menurun saat menembus lapisan dalam sistem, di mana mayoritas mengalami kesulitan mencuri kredensial, melakukan pergerakan lateral, serta gagal menembus sistem pertahanan Endpoint Detection and Response (EDR).
Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia, Adithya Nugraputra, menekankan bahwa respons pertahanan internal tetap efektif membendung eksploitasi AI lebih jauh.
“Hasil pengujian melalui Ensign Cyber AI Range menunjukkan bahwa meskipun model AI canggih sudah mampu menjalankan berbagai tahapan serangan siber, kemampuan deteksi dan respons yang efektif masih dapat menjadi hambatan yang berarti setelah akses awal berhasil diperoleh. Kontrol identitas yang kuat, segmentasi jaringan, dan pemantauan perilaku dapat mempersulit penyerang untuk bergerak lebih jauh dan memanfaatkan akses awal untuk memperluas serangan ke sistem lain,” kata Adithya kepada wartawan.
Laporan ini mengonfirmasi bahwa AI bertindak sebagai enabler atau penguat efisiensi taktik konvensional, seperti skema living-off-the-land dan otomatisasi ransomware.
Di kawasan ASEAN, aktivitas ransomware melonjak dua kali lipat sepanjang 2025 dengan 18 kelompok penyerang aktif. Sementara di Australasia dan Asia Timur, eskalasi serangan ransomware masing-masing melesat di atas 600% dan 400%.
Aktivitas hacktivisme di ASEAN mencatatkan porsi tertinggi (19,1%) dengan menyasar sektor-sektor vital seperti utilitas, energi, transportasi, telekomunikasi, keuangan, serta perbankan.
Di tingkat domestik, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat 5,5 miliar anomali serangan siber sepanjang 2025—melonjak lebih dari tujuh kali lipat dibanding rata-rata tahunan kurun 2020–2024.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) turut melaporkan kerugian masyarakat akibat penipuan digital menembus Rp7,5 triliun.
Adithya mengingatkan agar korporasi tidak memakai strategi pertahanan statis dalam menghadapi evolusi AI yang sangat cepat.
“Model AI canggih telah menunjukkan kemampuan untuk menjalankan berbagai tahapan rangkaian serangan siber dengan lebih cepat dan biaya yang lebih rendah. Ancaman ini semakin meningkat seiring menyempitnya kesenjangan kemampuan antar-model, dan biaya tidak lama lagi bukan menjadi penghalang bagi pelaku ancaman siber. Meskipun risiko yang ditimbulkan oleh AI canggih belum sepenuhnya dipahami, organisasi tetap perlu memperkuat fondasi keamanan siber dengan memprioritaskan pemindaian dan penerapan patch pada aset yang dapat diakses dari internet, serta menguji dan memvalidasi pertahanan mereka terhadap model AI terbaru. Dengan kemampuan AI canggih yang terus diperbarui dalam siklus sekitar dua bulan, kontrol keamanan tidak dapat terus mengandalkan pendekatan yang statis,” ujar Adithya.





