Potensi Gas Raksasa Laut Bali: Peluang Kemandirian Listrik dan Lonjakan Ekonomi Pulau Dewata

Rapat dengan Gubernur Bali di kantornya antara Kepala SKK Migas, Deputi EPMWK SKK migas, pimpinan tertinggi bp dan Inpex beserta Jajaran, serta akademisi dari ITS dalam rangka membahas percepatan pelaksanaan Seismik 2D & 3D sepanjang masing masing 285 km 2D dan 3650 km 3D. bp dan Inpex resmi eksplorasi migas di WK Agung I & II Bali dengan komitmen jutaan dolar. Langkah ini dinilai jadi angin segar ketahanan energi nasional. /SKK Migas
Rapat dengan Gubernur Bali di kantornya antara Kepala SKK Migas, Deputi EPMWK SKK migas, pimpinan tertinggi bp dan Inpex beserta Jajaran, serta akademisi dari ITS dalam rangka membahas percepatan pelaksanaan Seismik 2D & 3D sepanjang masing masing 285 km 2D dan 3650 km 3D. bp dan Inpex resmi eksplorasi migas di WK Agung I & II Bali dengan komitmen jutaan dolar. Langkah ini dinilai jadi angin segar ketahanan energi nasional. /SKK Migas

JAKARTA, Swaranusa.co – Rencana pencarian cadangan gas bumi berskala raksasa di laut dalam utara Bali oleh konsorsium British Petroleum (bp) dan Inpex Corporation membuka peluang emas bagi kemandirian energi Pulau Dewata.

Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM tertanggal 7 September 2026 yang difasilitasi oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), bp dan Inpex sepakat membagi hak partisipasi (participating interest/PI) masing-masing sebesar 50% di Wilayah Kerja Minyak dan Gas (WK Migas) Agung I dan Agung II.

Jika eksplorasi ini membuahkan hasil yang optimal, Bali bersiap menyongsong era baru di mana seluruh kebutuhan listrik daerah dapat dipenuhi secara mandiri tanpa harus bergantung lagi pada pasokan dari luar pulau.

Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, memproyeksikan masa depan yang sangat cerah bagi sektor ekonomi dan infrastruktur Bali apabila temuan gas raksasa ini benar-benar terwujud.

Dalam analisis pemodelan ekonominya, Yayan menyoroti bahwa target produksi awal sebesar 200 MMSCFD dari proyek tersebut setara dengan beban dasar listrik sekitar 1.200 Megawatt (MW). Angka ini sangat krusial karena hampir menyamai rekor beban puncak listrik Bali, yang menandakan bahwa gas lokal nantinya sanggup menopang seluruh kebutuhan energi daerah.

“Kini Bali masih bergantung pada kabel dari Jawa sekitar 270-340 MW. Ketika keempat sirkuit kabel itu putus pada 2 Mei 2025, sekitar 1,8 juta pelanggan padam,” katanya saat dihubungi, Kamis (1/10/2026).

Lebih dari sekadar sektor kelistrikan, proyek ini juga menjanjikan kucuran kesejahteraan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat. Yayan memaparkan, jika temuan gas mencapai skala raksasa hingga 7 Trillion Cubic Feet (TCF), pendapatan riil rumah tangga di Bali diproyeksikan melonjak sekitar 1,4%. Lonjakan ini bersumber dari aliran Dana Bagi Hasil (DBH) migas, dengan asumsi lokasi lapangan berada pada radius 4 hingga 12 mil laut dari bibir pantai.

Untuk memaksimalkan momentum positif tersebut, Yayan menyarankan agar pemerintah daerah segera menyiapkan regulasi yang tepat sasaran, termasuk mengelola pemasukan migas ke dalam instrumen tabungan dana abadi (sovereign wealth fund).

“Belanjakan hasilnya untuk hal yang memperkuat pariwisata: air bersih, pengolahan sampah, transportasi publik, dan keterampilan tenaga kerja,” terangnya.

Sementara itu, Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengungkapkan bahwa Gubernur Bali, I Wayan Koster, telah memberikan dukungan penuh terhadap seluruh rangkaian kegiatan eksplorasi maupun eksploitasi di WK Agung I dan WK Agung II. Ia mengaku sangat optimistis kolaborasi antara bp dan Inpex mampu mengoptimalkan potensi migas lepas pantai Bali secara efektif dan aman.

“Kami sangat yakin dan optimis dua raksasa Jepang dan Inggris bukan kaleng-kaleng karena sangat berpengalaman menemukan cadangan gas yang sangat besar di Tangguh Papua dan Masela Maluku, mempunyai teknologi terkini, dana yang besar, serta sumber daya manusia yang mumpuni dan sangat profesional,” ungkapnya.

Share

Berita Terkait