swaranusa.co, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah membidik pemindahan setidaknya 20% dari total 1.800 ton atau setara USD252 miliar emas masyarakat yang saat ini masih disimpan secara tradisional ke instrumen perbankan.
“Tentu dari segi investasi, Pemerintah berharap juga kepada dua engine bullion bankini, Pegadaian dan BSI untuk tumbuhnya double digit,” jelas katanya pada acara Peluncuran Indonesia Bullion Market Association (IBMA), di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI pekan lalu, Presiden Prabowo Subianto menyoroti solidnya perekonomian nasional yang berhasil tumbuh 5,45% pada semester I/2026.
Pertumbuhan yang menjadi rekor tertinggi dalam 13 tahun terakhir ini turut ditopang oleh keberadaan bank emas (bullion bank) yang berfungsi untuk menyimpan dan memperdagangkan komoditas emas hasil tambang dalam negeri.
Meski baru setahun beroperasi, dua penggerak utama ekosistem bank emas, yakni Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Pegadaian, sukses mengelola 153 ton emas senilai Rp360 triliun atau sekitar USD20 miliar.
Pembaruan data mutakhir bahkan menunjukkan bahwa kelolaan kedua lembaga tersebut telah melonjak hingga mencapai 179 ton.
Airlangga menjelaskan bahwa arah Kebijakan Ekonomi 2027 telah menetapkan operasional bulion dan IBMA sebagai fokus strategis revitalisasi ekonomi, berdampingan dengan Bursa Komoditas Mineral dan pembentukan Indonesia Reference Price.
Ekosistem bank emas kini mulai bergeser dari sekadar pembentukan landasan regulasi menuju pendalaman kualitas pasar yang berorientasi pada likuiditas, transparansi harga, standardisasi, tata kelola, dan integrasi menyeluruh.
Pemerintah bersama Presiden Prabowo, tambah Airlangga, terus memacu kebijakan hilirisasi, termasuk pemanfaatan bullion bank di Tanah Air.
“Sehingga, bulion ini menjadi sesuatu yang diandalkan ke depan, terutama untuk meningkatkan nilai tambah daripada hilirisasi di sektor pertambangan and energi,” katanya.
Ia turut memaparkan bahwa kekayaan alam Indonesia sangat membutuhkan ekosistem yang utuh, yang saat ini mulai terbangun di sektor emas, dari hulu hingga hilir.
Proses ini mencakup pertambangan, pemurnian (refinery), manufaktur, lembaga jasa keuangan, produk keuangan termasuk Exchange-Traded Fund (ETF), perdagangan fisik, bursa komoditas, hingga industri perhiasan.
Untuk itu, penguatan tata kelola dan daya saing ekosistem bulion difokuskan pada empat agenda prioritas.
Langkah tersebut meliputi pembangunan arsitektur pasar yang terintegrasi, penguatan standar dan ketertelusuran data (traceability), percepatan penyelesaian hambatan kebijakan (debottlenecking), serta penguatan edukasi, literasi, dan penetapan posisi di kancah internasional.
Kehadiran IBMA diharapkan mampu memperkokoh koordinasi proses bulion dari hulu ke hilir secara berkesinambungan demi mendongkrak kesejahteraan masyarakat. “Selamat bekerja dan berkolaborasi untuk memperkuat ekosistem bulion Indonesia,” tutup Airlangga.





