swaranusa.co, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto meresmikan groundbreaking proyek raksasa gas bumi Blok Masela hari ini, Kamis (26/7/2026), menyusul telah disetujuinya Plan of Development (POD) oleh SKK Migas. Proyek yang kerap dijuluki sebagai “proyek abadi” ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru bagi pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia, khususnya wilayah Maluku.
Anggota Komisi XII DPR Fraksi PDIP Bambang Wuryanto mengungkapkan bahwa estimasi total nilai investasi proyek ini mencapai USD 19,8 miliar atau hampir Rp400 triliun. Menurutnya, besaran investasi tersebut akan membawa dampak ekonomi yang masif dan terstruktur melalui program kerja tahunan atau Work Program and Budget(WP&B).
“Ini angka yang tidak kecil. Investasi ini mendatangkan harapan besar untuk memproduksi LNG dalam jumlah raksasa, yang skema pekerjaannya akan mirip dengan kilang LNG di Bontang,” katanya saat dihubungi.
Blok Masela digarap oleh konsorsium perusahaan energi dengan komposisi kepemilikan saham INPEX Masela Ltd. (65%), PT Pertamina Hulu Energi (20%), dan Petronas Masela Sdn. Bhd. (15%).
Dari nilai investasi hampir USD 19,8 miliar tersebut, Blok Masela ditargetkan menghasilkan produksi utama berupa LNG (Gas Alam Cair): Sekitar 9,5 juta ton per tahun. gas Pipa: 150 MMSCFD (sebagai gambaran, 1 MMSCFD setara dengan kapasitas pembangkit listrik 5 Megawatt), dan kondensat: Sekitar 35.000 barel per hari.
Bambang menjelaskan bahwa aliran dana yang besar dan masifnya operasi berpotensi menyulap wilayah operasi Blok Masela menjadi pusat ekonomi atau bahkan kota baru. Oleh karena itu, ia meminta seluruh pemangku kepentingan (stakeholder), termasuk Pemerintah Daerah dan DPRD setempat, untuk mendukung penuh proyek ini.
Pada fase puncak (peak season), Blok Masela diproyeksikan akan menyerap 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja, yang terdiri dari ribuan insinyur hingga tenaga teknis lapangan.
Menanggapi kekhawatiran terkait serapan tenaga kerja lokal, Bambang optimis bahwa masyarakat sekitar mampu bersaing, asalkan diberikan pembinaan yang konsisten.
“Tenaga kerja itu pasti bertingkat, ada yang mengandalkan otot dan ada yang otak. Orang Indonesia ini pintar-pintar. Tentu kami akan meminta agar ada pelatihan intensif bagi tenaga kerja. Melalui siklus latihan, praktik lapangan, dan evaluasi yang berkesinambungan, saya yakin tenaga kerja kita akan terserap,” tegasnya.
Ketahanan Energi Nasional dan Teknologi Ramah Lingkungan
Sebagai langkah menjaga ketahanan energi nasional, POD Blok Masela mengunci kebijakan kewajiban pasokan domestik (Domestic Market Obligation/DMO). Sebanyak 40% dari total produksi dialokasikan khusus untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, dan tidak untuk diekspor.
Selain itu, Blok Masela dipastikan akan mengintegrasikan teknologi Carbon Capture, sejalan dengan standar industri global masa kini. Teknologi ini bertujuan untuk menangkap emisi CO2 agar tidak terlepas ke atmosfer, sehingga mencegah efek gas rumah kaca.
“Semua sudah dimasukkan ke dalam POD. Penggunaan teknologi carbon capture adalah keharusan kesepakatan global untuk produksi gas saat ini,” tambah Bambang.
Sebagai bentuk mitigasi dan pengawasan, DPR akan memonitor ketat implementasi proyek ini, efisiensi biaya teknologi, hingga jumlah tenaga kerja per tahun, dengan menelaah rincian POD dan mengevaluasi laporan WP&B dari SKK Migas secara berkala.





