Ekonomi RI Naik 5,45% Semester I/2026, Menko Airlangga Beberkan Sumber Pertumbuhan Baru

Di tengah ketidakpastian global, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% pada Semester I-2026. Pemerintah. /Kemenko Perekonomian
Di tengah ketidakpastian global, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% pada Semester I-2026. Pemerintah. /Kemenko Perekonomian

swaranusa.co, JAKARTA — Di tengah membayangnya risiko ketidakpastian global akibat tensi geopolitik, tren proteksionisme, hingga pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), perekonomian Indonesia tumbuh 5,45% semester I/2026.

Kinerja tersebut dibarengi dengan tingkat inflasi yang terjaga di level 2,88% hingga Juli 2026. Selain itu, ekspansi sektor manufaktur masih konsisten berada di atas ambang batas 50, sementara Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bertahan stabil pada posisi 119.

Penguatan fondasi ekonomi nasional juga tecermin dari realisasi investasi semester I/2026 yang didorong oleh akselerasi sektor hilirisasi.

Ketahanan eksternal turut ditopang oleh kecukupan cadangan devisa yang setara dengan 5,5 bulan impor.

Dari Sisi penyaluran pembiayaan, kredit perbankan menguat 12,67% secara tahunan (year-on-year/YoY), dengan lonjakan signifikan pada kredit investasi yang tumbuh 24,9% YoY.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa El-Nino adalah risiko yang perlu menjadi perhatian karena akan mengganggu kebutuhan dan ketersediaan pangan.

“Pemerintah terus mendorong melalui kebijakan agar perekonomian Indonesia tumbuh lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat,” katanya dalam acara Sidang Pleno ISEI XXV & Seminar Nasional ISEI 2026, Kamis (27/8/2026) dikutip melalui keterangan pers.

Menanggapi dinamika ekonomi global, pemerintah memacu sektor-sektor strategis sebagai penopang pertumbuhan baru, terfokus pada akselerasi teknologi digital, industri semikonduktor, dan kecerdasan buatan (AI).

Di sektor semikonduktor, pemerintah telah menjalin kemitraan dengan perusahaan asal Inggris, ARM, guna mencetak SDM berpengalaman.

Di samping itu, modernisasi digital merambah ke sektor pertanian serta energi untuk mendukung kesiapan implementasi program B50.

Pemerintah juga menyesuaikan mekanisme bursa mineral guna mengoptimalkan penetapan harga komoditas dalam negeri, sembari memperluas jejaring kerja sama internasional—termasuk keterlibatan dalam 25 perjanjian perdagangan bebas seperti CPTPP dan kelanjutan proses technical review aksesi OECD.

Airlangga menjelaskan bahwa akselerasi kawasan ekonomi terus digenjot melalui pemberian insentif fiskal untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan kawasan industri guna merangsang investasi energi terbarukan (renewable energy).

“Saya juga ingin sharing bahwa Indonesia telah bergabung sebagai founding member di World AI Collaboration Organization. Dan ini akan membuka ruang investasi AI sebesar USD8-12 miliar di tahun 2026 hingga 2030. Ini adalah momentum bagi Indonesia karena AI ini membutuhkan data center,” jelasnya.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menerangkan bahwa langkah strategis lainnya mencakup modernisasi tata kelola komoditas kelapa rakyat untuk mendongkrak nilai tambah petani lokal, pemantapan ekosistem nikel sebagai rantai pasok utama industri baterai dan kendaraan listrik (EV) nasional, serta implementasi Digital Economy Framework Agreement (DEFA) untuk memperluas konektivitas sistem pembayaran digital di kawasan Asia.

“Dengan mengoptimalkan momentum tersebut melalui percepatan hilirisasi, pengembangan industri semikonduktor dan AI, penguatan ekonomi digital, serta perluasan akses pasar melalui kerja sama perdagangan internasional, Pemerintah optimis tentunya Indonesia bisa bersaing dengan menggunakan negara lain di sektor digital,” terangnya.

Share

Berita Terkait