swaranusa.co, JAKARTA — Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA/SMK Tahun 2026 yang kian mendekati hari H tidak hanya menuntut kesiapan infrastruktur digital dan perangkat keras, tetapi juga menguji komitmen moral dari seluruh ekosistem pendidikan di tanah air.
Di tengah persiapan teknis yang hampir rampung di berbagai daerah, gaung integritas secara tegas kembali disuarakan sebagai pilar utama untuk menjaga objektivitas serta kredibilitas hasil asesmen nasional.
Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta per tanggal 20 Oktober 2026, tingkat kesiapan sekolah di wilayah ibu kota tercatat telah menyentuh angka 94 persen.
Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Erni Mawarni, menyatakan bahwa angka kesiapan tersebut mencakup kelayakan perangkat keras, kestabilan jaringan internet, hingga ketepatan penjadwalan ujian yang sebelumnya telah melalui rangkaian simulasi serta gladi bersih.
Kendati demikian, Erni mengingatkan bahwa kesiapan teknis semata belumlah cukup. Setiap satuan pendidikan diimbau untuk memastikan bahwa tiga pilar nonteknis pendukung dapat berjalan selaras:ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar memahami prosedur operasional standar,ketertiban administrasi, serta kesiapan mental dan fisik peserta didik.
“Pentingnya integritas adalah karena hasil TKA hanya berguna kalau mencerminkan kemampuan murid yang sebenarnya. Kalau ada kecurangan, datanya tidak bisa dipakai untuk menilai atau memperbaiki apapun,” katanya saat dihubungi, Jumat (23/10/2026).
Erni Menambahkan, “Kami ingin TKA berjalan lancar sekaligus jujur supaya hasilnya objektif dan kredibel, dan kami berharap semua pihak menjaga integritas sampai ujian selesai.”
Senada dengan pandangan tingkat wilayah, tingkat kematangan persiapan di satuan pendidikan daerah turut dilaporkan berjalan optimal.
Kepala SMAN 6 Bone, Amdar, menyampaikan bahwa sekolahnya telah mengoptimalkan fasilitas laboratorium komputer beserta jaringan internet, sekaligus menuntaskan tahapan simulasi serta gladi login bagi seluruh peserta didik.
Selain itu, sosialisasi secara intensif juga telah dijalankan untuk merangkul pemahaman bersama antara para guru, peserta didik, hingga orang tua murid.
Bagi Amdar, penegakkan integritas memegang peranan yang sangat krusial karena hasil TKA berfungsi langsung sebagai cermin sekaligus dasar pijakan strategis dalam upaya perbaikan mutu pembelajaran di sekolah.
“Hasil TKA bukan hanya menguji kemampuan murid, tetapi juga sebagai dasar untuk perbaikan pembelajaran di sekolah. Sehingga, dibutuhkan data yang jujur. Kalau pelaksanaannya ada rekayasa, maka untuk menentukan kebijakan di sekolah akan salah arah,” jelasnya.
Guna memastikan pelaksanaan ujian dapat berjalan murni tanpa adanya rekayasa, berbagai langkah antisipatif dan konkret telah disiapkan sejak dini.
SMAN 6 Bone secara khusus membekali seluruh proktor, teknisi, serta pengawas ruang melalui pembekalan dan simulasi terarah agar mereka memahami secara persis tugas serta batasan prosedur masing-masing.
Di balik optimisme dan kelancaran persiapan tersebut, tantangan operasional di lapangan tetap diwaspadai oleh satuan pendidikan di daerah.
Amdar menyebutkan bahwa kendala eksternal seperti potensi pemadaman listrik berkala dari pihak PLN masih menjadi ancaman nyata yang dapat mengganggu kestabilan jaringan internet penunjang server lokal maupun Tower BTS terdekat.
Sebagai langkah mitigasi risiko, pihak sekolah telah menyiagakan unit genset cadangan guna mengamankan pasokan daya listrik selama ujian berlangsung.
Seluruh rangkaian ikhtiar dan persiapan matang ini bermuara pada satu visi besar, yaitu menghadirkan asesmen yang bersih, transparan, serta akuntabel.
“Kami berkomitmen melaksanakan TKA dengan jujur, transparan, dan sesuai prosedur yang ada. Harapan kami, hasil TKA murid-murid kami dapat mencerminkan kemampuan yang sebenarnya, sehingga menjadi bahan evaluasi yang tepat untuk menata pendidikan yang lebih baik dan berkualitas,” pungkas Amdar.





