swaranusa.co, JAKARTA — Kementerian Investasi dan Hilirisasi bersama Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memaparkan capaian realisasi investasi di Indonesia sepanjang semester I/2026 telah menyentuh Rp1.010,6 triliun.
Capaian tersebut merepresentasikan pertumbuhan positif sebesar 7,2% secara year-on-year (YoY) dan sukses membuka lapangan kerja bagi 1.448.862 masyarakat Indonesia, yang menandakan lonjakan penyerapan tenaga kerja hingga 15% (YoY).
Dengan pencapaian tersebut, Indonesia telah memenuhi 49,5% dari total target investasi nasional tahun 2026 yang dipatok pada Rp2.041,3 triliun.
Khusus triwulan II/2026, arus investasi yang masuk mencapai Rp511,8 triliun (naik 7,1% YoY) dan berhasil menyerap 742.293 pekerja domestik.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani, menyatakan bahwa keberhasilan tersebut menjadi indikator kuat bahwa kepercayaan para investor terhadap ekonomi Indonesia tetap kokoh.
Baginya, ini patut diapresiasi mengingat situasi global saat ini masih dilingkupi gejolak ketidakpastian ekonomi, tensi geopolitik, serta perubahan pola perdagangan dunia.
“Di kuartal kedua ini untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir Tiongkok investasinya lebih agresif melalui Hongkong sehingga posisi pertama dari PMA (penanaman modal asing) di kuartal kedua ini ditempati oleh Hongkong dengan USD5 miliar,” katanya kepada wartawan.
Aliran PMA pada kuartal II/2026 didominasi oleh Hong Kong dan Tiongkok, disusul oleh Singapura, Jepang, serta Malaysia. Mereka menyumbangkan porsi dominan sebesar 79,6% dari total investasi asing di tanah air.
Secara keseluruhan, nilai PMA pada periode ini menembus Rp257,7 triliun (50,4%), sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencatatkan angka Rp254,1 triliun (49,6%).
Dari segi pemerataan wilayah, investasi di luar Pulau Jawa membukukan nilai Rp256,5 triliun (50,1%), bersaing ketat dengan Pulau Jawa yang mencatat Rp255,3 triliun (49,9%).
Berikut adalah rincian lima provinsi dengan serapan realisasi investasi tertinggi:
-
DKI Jakarta: Rp94,9 triliun
-
Jawa Barat: Rp61,3 triliun
-
Maluku Utara: Rp40,2 triliun
-
Jawa Timur: Rp40,1 triliun
-
Sulawesi Tengah: Rp36,6 triliun
Jika ditarik secara akumulatif untuk semester I/2026, PMA berada di angka Rp507,6 triliun (50,2%) dan PMDN menyusul di Rp502,9 triliun (49,8%).
Tren pemerataan juga konsisten terjadi, di mana luar Pulau Jawa memimpin tipis dengan Rp507,8 triliun (50,2%) dibandingkan investasi di Pulau Jawa yang sebesar Rp502,8 triliun (49,8%).
Sektor yang menjadi primadona mencakup industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya, diikuti oleh sektor jasa lainnya, pertambangan, transportasi, gudang dan telekomunikasi, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran.
Hilirisasi Tetap Menjadi Tulang Punggung Investasi
Pemerintah terus menjadikan program hilirisasi sebagai ujung tombak transformasi ekonomi.
Sepanjang paruh pertama 2026, nilai investasi untuk sektor hilirisasi menyentuh Rp300,1 triliun, yang menyumbang 29,7% dari keseluruhan investasi nasional.
Dominasi hilirisasi masih dipegang oleh komoditas mineral, utamanya bauksit, nikel, tembaga, besi baja, serta pasir silika.
Rosan menjelaskan bahwa realisasi investasi di bidang hilirisasi untuk triwulan II/2026 mencapai Rp152,7 triliun atau meningkat 5,7%. Total realisasi investasi mencapai 30% atau 29,8% dari total realisasi investasi di triwulan II/2026.
“Kalau kita lihat biasanya itu nikel yang menjadi nomor satu. Nah ini ada shifting, bauksit sekarang menjadi nomor satu. Karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri maupun luar negeri, sehingga bauksit untuk pertama kalinya mengambil tempat nomor satu. Tapi harapannya tetap ingin mendorong hilirisasi turunan dari kelapa sawit dan lain-lainnya,” jelasnya.
Ke depan, Rosan menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga tren positif investasi melalui langkah-langkah strategis seperti pemangkasan regulasi perizinan, penguatan ekosistem penanaman modal, percepatan pembangunan kawasan industri terpadu, hingga penyempurnaan kualitas layanan bagi para investor.





