swaranusa.co, JAKARTA — Penanganan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, memasuki hari ketujuh dengan perkembangan signifikan. Operasi pemadaman yang melibatkan berbagai unsur lintas sektor telah mencapai progres sekitar 49% dan kini berfokus pada tahap pendinginan untuk memastikan bara api benar-benar terkendali.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut percepatan penanganan tidak terlepas dari sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri, kementerian/lembaga terkait, serta pihak swasta yang bersama-sama melakukan upaya pemadaman dari darat maupun udara.
Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB Brigjen TNI Djohan Darmawan mengatakan kolaborasi berbagai pihak di lapangan memberikan dampak positif terhadap proses pengendalian kebakaran.
“Kolaborasi dari seluruh instansi yang ada ini ada kemajuan-kemajuan. Saat ini sudah mencapai 49% dan kita terus fokuskan untuk pendinginan,” katanya saat memantau pemadaman dikutip melalui keterangan pers, Rabu (8/6/2026).
Dalam proses pemadaman, BNPB mengerahkan empat unit helikopter water bombing untuk menjangkau titik-titik api yang sulit ditangani melalui jalur darat.
Penggunaan armada udara dilakukan untuk membantu penyiraman pada area yang tidak dapat dijangkau oleh kendaraan maupun selang pemadam.
“Kendala-kendala kita sudah mendatangkan empat helikopter water bombing untuk menanggulangi sektor-sektor yang tidak bisa disentuh oleh pemadam kebakaran. Jadi kita siram melalui udara,” jelas Djohan.
Selain operasi udara, tim gabungan juga memperkuat penanganan dari sisi darat dengan membuka akses jalan baru di sisi utara dan selatan kawasan TPA. Langkah tersebut dilakukan agar mobil pemadam dapat lebih mudah menjangkau area terdampak.
Tim juga membuat sejumlah embung sebagai tempat penampungan air yang kemudian dialirkan melalui beberapa jalur selang pemadam. Selain itu, cairan kimia khusus turut digunakan untuk membantu mengendalikan bara api yang masih tersisa di dalam tumpukan sampah.
Menurut Djohan, kombinasi strategi dari darat dan udara menjadi faktor penting dalam mempercepat proses pendinginan kawasan TPA Jatiwaringin.
“Dari bawah ini kita berjalan, dari atas pun disiram juga untuk pendinginan mematikan api ini,” tuturnya.
BNPB menyampaikan bahwa api yang terlihat di permukaan TPA telah berhasil dikurangi secara bertahap. Namun, tantangan utama saat ini adalah munculnya kepulan asap dari bagian dalam tumpukan sampah yang masih menyimpan sumber panas.
Berdasarkan hasil pemantauan menggunakan alat geotermal, material sampah di dalam TPA masih memiliki temperatur tinggi serta berpotensi menghasilkan gas yang menyebabkan munculnya asap.
“Saat ini api itu di permukaan tidak kelihatan, namun adanya asap yang keluar dari dalam tumpukan sampah. Dimungkinkan di dalamnya itu ada sumber panas karena mengandung gas,” tambah Djohan.
Kondisi tersebut membuat tim gabungan tetap melakukan penyiraman secara berkelanjutan untuk mendinginkan bagian dalam timbunan sampah dan mencegah munculnya kembali titik api.
Sementara itu, terkait rencana Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu opsi penanganan, BNPB terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Namun, pelaksanaan rekayasa cuaca belum dapat dilakukan karena kondisi pertumbuhan awan potensial di sekitar lokasi kebakaran masih belum memenuhi syarat.
BNPB bersama BMKG akan terus memantau perkembangan cuaca dan siap melakukan penyemaian awan apabila kondisi atmosfer telah mendukung pelaksanaan operasi tersebut.





