Kemdiktisaintek Dorong Lulusan Kampus Jadi Aset Global Bukan Pencari Kerja

Forum diskusi bertajuk "Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia untuk Bekerja di Luar Negeri Melalui Penguatan CDC di Perguruan Tinggi" yang digelar di Graha Kemdiktisaintek, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Transformasi lulusan kampus diarahkan jadi talenta global berdaya saing internasional dan produktif. /Kemdiktisaintek
Forum diskusi bertajuk "Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia untuk Bekerja di Luar Negeri Melalui Penguatan CDC di Perguruan Tinggi" yang digelar di Graha Kemdiktisaintek, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Transformasi lulusan kampus diarahkan jadi talenta global berdaya saing internasional dan produktif. /Kemdiktisaintek

swaranusa.co, JAKARTA — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perubahan paradigma dalam pengelolaan lulusan perguruan tinggi, dari sekadar pencari kerja menjadi aset global yang siap bersaing di pasar internasional.

Staf Khusus Menteri Kemdiktisaintek Oki Earlivan Sampurno mengatakan bahwa langkah tersebut merupakan implementasi arahan Prabowo Subianto dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia melalui pilar Asta Cita.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum diskusi bertajuk “Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia untuk Bekerja di Luar Negeri Melalui Penguatan CDC di Perguruan Tinggi” yang digelar di Graha Kemdiktisaintek, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Oki menyoroti masih adanya ketidaksesuaian antara hasil pendidikan dengan kebutuhan industri global.

Dia mengibaratkan perguruan tinggi sebagai sistem yang produktif menghasilkan lulusan, namun belum memiliki jalur distribusi yang terintegrasi dengan kebutuhan pasar internasional.

Data menunjukkan serapan tenaga kerja terampil Indonesia di luar negeri masih sekitar 0,2%, jauh tertinggal dibandingkan Filipina yang mencapai 4,5% melalui sistem penempatan tenaga kerja yang lebih terorganisir.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menyiapkan unit pengelola talenta global dengan pendekatan manajemen profesional, menggantikan sistem konvensional berbasis informasi lowongan kerja yang dinilai kurang efektif.

Transformasi ini difokuskan pada penguatan Career Development Center (CDC) di perguruan tinggi agar mampu menghubungkan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri global secara langsung.

Pemerintah menargetkan sedikitnya 100.000 lulusan perguruan tinggi dapat terserap ke pasar kerja internasional setiap tahun, terutama di sektor strategis seperti kesehatan, perdagangan, dan teknologi otomotif.

Selain itu, penyesuaian kurikulum akan dilakukan agar selaras dengan standar global, disertai penguatan kerja sama dengan industri luar negeri melalui skema business-to-business (B2B) dan government-to-business (G2B).

Peran diaspora juga akan dimaksimalkan sebagai penghubung informasi dan akses bagi talenta Indonesia yang ingin berkarier di luar negeri.

Melalui langkah ini, pemerintah berharap dapat membangun sistem pengelolaan talenta yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan daya saing global dan kontribusi devisa bagi Indonesia.

Share

Berita Terkait