swaranusa.co, JAKARTA — Memasuki awal tahun 2026, resolusi keuangan kembali menjadi perhatian banyak masyarakat sebagai upaya membangun kondisi finansial yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Langkah ini dinilai semakin penting di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memproyeksikan perekonomian global masih rentan akibat perlambatan pertumbuhan, termasuk di Indonesia.
Menanggapi kondisi tersebut, PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life), anggota holding BUMN IFG yang bergerak di sektor asuransi, penjaminan, dan investasi, menegaskan pentingnya kesiapan finansial sejak dini melalui kebiasaan yang konsisten dan terukur.
Corporate Secretary IFG Life Gatot Haryadi mengatakan bahwa ketika kondisi ekonomi semakin menantang, literasi keuangan menjadi semakin penting.
Sebagai salah satu pelaku utama di industri asuransi jiwa & kesehatan, IFG Life, tambah Gatot, berkomitmen memberikan layanan terbaik serta perlindungan yang komprehensif dan berkelanjutan kepada konsumen.
“Komitmen tersebut diwujudkan tidak hanya melalui produk dan proses klaim, tetapi juga dengan mendampingi masyarakat membangun stabilitas finansial melalui edukasi dan perencanaan yang terukur,” katanya dikutip melalui keterangan pers, Jumat (16/1/2026).
Berikut adalah lima kebiasaan kunci finansial lebih stabil menurut IFG Life:
-
Menabung di awal bulan
Sebagai langkah awal, kebiasaan menabung secara rutin tetap menjadi fondasi utama dalam perencanaan keuangan.
Menabung di awal bulan dinilai lebih efektif karena dana langsung dialokasikan sebelum digunakan untuk kebutuhan lain.
Dana tersebut dapat disimpan di rekening tabungan maupun rekening dana nasabah (RDN) sebagai langkah awal berinvestasi, sehingga menabung menjadi bagian dari sistem keuangan bulanan.
-
Evaluasi sebelum membeli
Kebiasaan mengevaluasi kebutuhan sebelum berbelanja juga penting untuk menghindari pengeluaran impulsif.
Memberi jeda waktu sebelum melakukan pembelian, khususnya untuk barang non-prioritas, dapat membantu meningkatkan kesadaran finansial.
Dengan mempertimbangkan manfaat, urgensi, dan ketersediaan anggaran, keputusan belanja menjadi lebih rasional.
-
Hati-hati dengan layanan langganan
Masyarakat juga diimbau untuk lebih waspada terhadap layanan berbasis langganan yang semakin marak.
Biaya kecil yang dibayarkan secara rutin dapat menumpuk dan membebani pengeluaran bulanan.
Pengecekan berkala terhadap riwayat transaksi e-wallet atau kartu kredit menjadi langkah sederhana untuk mencegah kebocoran anggaran.
-
Memahami perlindungan yang kamu punya
Pemahaman terhadap perlindungan finansial yang dimiliki, seperti asuransi dan BPJS, juga tidak kalah penting.
Dengan memahami manfaat, ketentuan klaim, serta batas perlindungan, perencanaan keuangan dapat disusun dengan lebih matang.
Sejumlah perusahaan asuransi kini menghadirkan layanan digital untuk memudahkan nasabah mengakses informasi polis dan klaim.
-
Tetapkan “limit hidup”
Menetapkan batas pengeluaran gaya hidup atau “limit hidup” menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan.
Dengan menentukan batas maksimal pengeluaran sejak awal bulan, pengelolaan keuangan dapat dilakukan lebih disiplin tanpa menghilangkan ruang untuk menikmati hidup.
Pada akhirnya, stabilitas finansial tidak dibangun melalui perubahan besar dalam waktu singkat, melainkan melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Dengan resolusi keuangan yang realistis dan disiplin, masyarakat diharapkan dapat menghadapi 2026 dengan lebih siap dan percaya diri.





