Modus Penipuan Digital Deepfake, Fake BTS, dan Malware Meningkat

Ilustrasi warga menggunakan mobile banking. Penipuan digital makin canggih, perlu perlindungan berlapis serta literasi masyarakat untuk mencegah pencurian data. /BRI
Ilustrasi warga menggunakan mobile banking. Penipuan digital makin canggih, perlu perlindungan berlapis serta literasi masyarakat untuk mencegah pencurian data. /BRI

swaranusa.co, JAKARTA — Perkembangan teknologi membuat modus penipuan digital semakin kompleks dan sulit dideteksi.

Berbagai metode baru bermunculan, mulai dari pemanfaatan teknologi deepfake berbasis kecerdasan buatan untuk memalsukan wajah dan suara, penggunaan fake Base Transceiver Station (BTS) yang dapat mengirim pesan palsu secara massal seolah berasal dari lembaga resmi, hingga penyebaran malware yang mampu menyusup dan memantau perangkat korban.

Menanggapi kondisi tersebut, perusahaan penyedia solusi identitas digital dan pencegahan penipuan VIDA menilai bahwa penipuan digital kini telah berkembang dari aksi individu menjadi aktivitas yang lebih terorganisir dan sistematis.

Founder dan Group CEO VIDA Niki Luhur menyatakan bahwa pelaku penipuan terus menyesuaikan strategi mereka mengikuti perkembangan sistem keamanan digital.

“Penipuan selalu beradaptasi. Setiap kali sistem pertahanan diperkuat, pelaku menguji ulang, menyesuaikan teknik, dan kembali dengan metode yang lebih kompleks dan sistematis. Mereka memanfaatkan celah keamanan, kelemahan literasi digital masyarakat, serta momentum tertentu untuk melancarkan aksinya,” katanya melalui keterangan pers, Minggu (8/3/2026).

Berdasarkan data internal VIDA, peningkatan kasus penipuan digital sepanjang 2025 paling banyak terjadi menjelang hingga saat pencairan Tunjangan Hari Raya (THR).

Pada periode tersebut aktivitas transaksi masyarakat meningkat, sehingga membuka lebih banyak peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk menjalankan aksinya.

Saat ini terdapat dua modus penipuan digital yang paling sering terjadi di Indonesia.

Pertama adalah phishing atau smishing, yaitu teknik yang digunakan untuk menipu korban agar mengklik tautan tertentu dan memasukkan data pribadi seperti username, password, hingga One-Time Password (OTP) melalui pesan singkat.

Pelaku biasanya menyamar sebagai institusi resmi seperti perusahaan logistik atau menawarkan promo Ramadan palsu.

Modus tersebut juga berkembang dengan memanfaatkan fake BTS yang membuat pesan terlihat berasal dari sumber terpercaya.

Modus kedua adalah penyebaran malware melalui file aplikasi berbahaya berformat APK.

Pelaku biasanya menyamarkan file tersebut sebagai dokumen yang tampak relevan bagi korban, seperti status pengiriman paket, undangan pernikahan, atau dokumen lainnya.

Setelah diunduh, aplikasi tersebut memungkinkan pelaku memantau perangkat korban dari jarak jauh serta mengakses berbagai informasi sensitif, termasuk kata sandi yang tersimpan di perangkat.

Kedua modus tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni mendapatkan akses terhadap kredensial pengguna.

Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan password saja tidak lagi cukup untuk menjamin keamanan identitas digital di era teknologi yang semakin kompleks.

Niki menjelaskan bahwa sistem identitas digital pada dasarnya memiliki tiga lapisan keamanan utama.

Lapisan pertama adalah what you know, yaitu informasi yang diketahui pengguna seperti password, nama ibu kandung, atau pertanyaan keamanan lainnya.

Lapisan kedua adalah what you have, yaitu perangkat yang dimiliki pengguna seperti ponsel atau token yang digunakan untuk mengakses layanan digital.

Sementara lapisan ketiga adalah who you are, yang merujuk pada identitas biometrik seperti wajah, suara, atau sidik jari yang bersifat unik bagi setiap individu.

“Password dan OTP tidak lagi dapat menjadi satu-satunya cara verifikasi yang aman, mengingat maraknya kebocoran data serta berbagai teknik penipuan yang terus berkembang. Karena itu, perangkat yang kita miliki (what you have) serta identitas biometrik (who you are) perlu dilindungi dan dimanfaatkan sebagai lapisan keamanan tambahan,” jelasnya.

Share

Berita Terkait