swaranusa.co, JAKARTA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan kondisi pangan nasional tetap aman meskipun dunia tengah menghadapi dinamika geopolitik serta potensi gangguan iklim seperti El Nino dan kekeringan.
Berdasarkan data per Maret 2026, ketersediaan pangan nasional, terutama beras, dinilai cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.
“Ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” katanya dikutip melalui situs Kemensetneg, Senin (9/3/2026).
Amran menjelaskan bahwa total ketersediaan beras nasional saat ini mencapai 27,99 juta ton.
Jumlah tersebut terdiri dari cadangan yang dikelola Perum Bulog sebesar 3,76 juta ton, stok yang berada di masyarakat sekitar 12,50 juta ton, serta standing crop atau padi siap panen sebesar 11,73 juta ton.
Selain ketersediaan stok, produksi beras nasional juga menunjukkan tren positif.
Dalam periode Januari hingga Mei 2026, produksi beras diperkirakan mencapai sekitar 16,92 juta ton. Rata-rata produksi bulanan berada pada kisaran 2,6 juta hingga 5,7 juta ton, lebih tinggi dibandingkan konsumsi nasional yang sekitar 2,59 juta ton setiap bulan.
“Tiap bulan kita produksi 2,6-5,7 juta ton, sedangkan kebutuhan kita adalah 2,59 juta ton per bulan, jadi pangan aman,” jelasnya.
Amran menerangkan bahwa peningkatan produksi tersebut turut berdampak pada bertambahnya cadangan beras pemerintah yang dikelola oleh Bulog.
Saat ini stok Bulog mencapai sekitar 3,7 juta ton dan diperkirakan akan terus meningkat dalam waktu dekat seiring masuknya panen raya di sejumlah wilayah.
“Kita perkirakan dalam dua bulan ke depan stok BULOG bisa mencapai 5 juta ton. Ini akan semakin memperkuat cadangan pangan pemerintah,” terangnya.
Pemerintah juga menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena iklim. Salah satu upaya yang dilakukan adalah program pompanisasi untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian.
“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi. Tahun lalu sudah 1,2 juta hektare, dan tahun ini kita tambah lagi 1 juta hektare agar produksi tetap terjaga,” ujar Amran.
Selain itu, tambah Amran, pemerintah memastikan pasokan pupuk dalam kondisi aman dan harganya mengalami penurunan sehingga dapat mendorong semangat petani untuk terus menanam.
“Pupuk cukup dan bahkan harganya turun sekitar 20%. Ini menjadi motivasi besar bagi petani untuk terus menanam,” kata Mentan.
Optimalisasi lahan rawa yang telah direhabilitasi juga menjadi bagian dari strategi menjaga produksi, terutama saat musim kering ketika pasokan air di sejumlah daerah terbatas.
“Insyaallah pangan kita aman. Produksi kuat, stok cukup, dan berbagai langkah antisipasi sudah kita lakukan,” jelasnya.



