Menag Jelaskan Peran Agama dan Kemanusiaan di Era Kecerdasan Buatan

Menteri Agama Nasaruddin Umar. /Kemenag
Menteri Agama Nasaruddin Umar. /Kemenag

swaranusa.co, JAKARTA — Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya ekoteologi serta peran agama dan nilai kemanusiaan di tengah perkembangan pesat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Hal tersebut disampaikan Menag saat menjadi pembicara dalam konferensi internasional yang diselenggarakan Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir di Mesir.

Mengawali pemaparannya, Nasaruddin menyampaikan salam dari Presiden Prabowo Subianto serta apresiasi kepada Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi atas dukungan terhadap pelaksanaan konferensi.

Menag kemudian menjelaskan konsep tanggung jawab manusia dalam perspektif Islam yang tidak semata berorientasi pada pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi juga mencakup dimensi moral, amanah sosial, dan kesadaran memakmurkan bumi.

“Dalam kerangka inilah, kami menegaskan pentingnya apa yang kami sebut sebagai ekoteologi, yakni cara pandang yang memahami hubungan antara manusia dan lingkungan berdasarkan prinsip amanah dan tanggung jawab etis,” katanya di Mesir dikutip melalui keterangan pers, Selasa (20/1/2026).

Menurut Nasaruddin, dalam ajaran Islam, bumi merupakan titipan Ilahi yang harus dijaga keseimbangannya.

Upaya pembangunan peradaban tidak dapat dipisahkan dari kewajiban menjaga lingkungan, karena setiap aktivitas yang merusak keseimbangan tersebut sejatinya bertentangan dengan tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban.

Menag juga menyampaikan kesepahamannya dengan pandangan Menteri Wakaf Mesir bahwa pembangunan peradaban merupakan kewajiban dalam Islam.

Dia mengutip pemikiran Malik bin Nabi yang menekankan bahwa peradaban bukan sekadar akumulasi materi, melainkan bangunan moral dan kemanusiaan yang utuh.

Menurutnya, kemunduran peradaban tidak dapat diatasi hanya dengan meniru teknologi maju, tetapi dengan memperbaiki kualitas manusia dan relasinya dengan nilai, waktu, dan kerja.

“Peradaban tidak akan bangkit kecuali ketika semangat keagamaan terjaga dan terbangun dalam nurani manusia bukan sebagai ritual yang kaku, melainkan sebagai energi moral yang mengendalikan perilaku, membebaskan akal, dan mengarahkan naluri,” jelasnya.

Nasaruddin menambahkan bahwa tantangan utama di era kecerdasan buatan bukan terletak pada kemajuan teknologi, melainkan pada kemampuan manusia menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Dunia, menurutnya, membutuhkan profesi yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga beretika dan bernurani.

Dalam konteks ini, agama berperan sebagai kompas moral bagi kemajuan dan penjaga martabat manusia.

“Di Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar dari sisi jumlah penduduk, kami berupaya meneguhkan pemahaman ini melalui pengaitan pendidikan keagamaan dengan nilai-nilai profesional, serta penguatan etika kerja dalam lembaga-lembaga negara dan masyarakat,” ujarnya.

Nasaruddin menerangkan bahwa kecerdasan buatan tidak dapat menggantikan nurani keagamaan, ijtihad manusia, maupun rujukan etika.

AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti otoritas keagamaan atau sumber fatwa.

Menurutnya, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana teknologi tersebut diatur agar manusia tetap memimpin dengan akal, nilai, dan tanggung jawab etik.

“Dunia kita hari ini tidak kekurangan para ahli, tetapi kekurangan nilai-nilai yang menuntun keahlian itu. Dunia tidak hanya memerlukan akal yang maju, melainkan juga akhlak yang kokoh, tanggung jawab peradaban, dan pandangan kemanusiaan yang menyeluruh,” terangnya.

Share

Berita Terkait