swaranusa.co, JAKARTA — Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) menyebut momentum Idulfitri atau Lebaran menjadi salah satu fenomena yang secara konsisten mendorong peningkatan aktivitas ekonomi nasional.
Karakteristik mudik yang bersifat massal, terjadwal, dan memiliki efek pengganda menjadikannya sebagai pendorong berbagai sektor ekonomi secara bersamaan.
Berdasarkan data historis yang dihimpun Kemenko Perekonomian, konsumsi rumah tangga selama periode ini meningkat sekitar 15% hingga 20% dibandingkan kondisi normal.
Hal tersebut sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat serta percepatan perputaran uang di berbagai daerah.
Tingginya kecenderungan konsumsi masyarakat juga turut memberikan dampak signifikan terhadap pelaku usaha, khususnya UMKM, yang mengalami peningkatan pendapatan hingga 50% sampai 70%.
Secara empiris, mudik Lebaran juga memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa aktivitas mudik berkontribusi sekitar 1,5% terhadap pertumbuhan ekonomi tahunan.
Dampak ini terjadi melalui redistribusi aliran uang dari pusat ekonomi ke berbagai wilayah, sehingga mendorong pemerataan peredaran uang.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan bahwa setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda yang memberikan dampak berlapis bagi pelaku ekonomi, termasuk UMKM, pedagang, dan sektor jasa transportasi.
“Peningkatan aktivitas tersebut juga berkontribusi pada kenaikan pendapatan dari sektor perdagangan dan jasa. Dengan potensi yang besar tersebut, sinergi kebijakan serta penguatan peran UMKM menjadi kunci untuk mengoptimalkan momentum mudik Lebaran guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” katanya melalui keterangan pers, Sabtu (21/3/2026).
Haryo menjelaskan bahwa untuk Idulfitri 2026, proyeksi aktivitas ekonomi menunjukkan tren yang lebih optimistis dibandingkan tahun sebelumnya.
Evaluasi tahun 2025 mencatat pergerakan masyarakat mencapai 154,62 juta orang.
Pada tahun ini, mobilitas dan belanja masyarakat diperkirakan meningkat guna mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5,5% hingga 5,6% secara tahunan.
Optimisme tersebut diperkuat oleh berbagai kebijakan stimulus pemerintah. Di antaranya alokasi stimulus fiskal Rp12,8 triliun, penyaluran bantuan sosial Rp11,92 triliun kepada jutaan keluarga penerima manfaat, serta diskon tarif transportasi Rp911,16 miliar.
Mengingat kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto berada di kisaran 53% hingga 54%, kebijakan tersebut dinilai mampu memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, pemerintah juga menerapkan berbagai kebijakan pendukung lainnya, seperti subsidi tiket transportasi, insentif fiskal, hingga kebijakan penurunan pajak tiket pesawat yang sebelumnya berhasil menekan harga.
Upaya lain mencakup penurunan biaya kebandaraan, program mudik gratis, serta penerapan kebijakan work from anywhere (WFA) bagi aparatur sipil negara.
Kebijakan WFA dinilai mampu memperpanjang durasi tinggal pemudik di kampung halaman, sehingga meningkatkan aktivitas konsumsi di daerah.
Dengan tetap memperoleh pendapatan, masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk berbelanja dan berkontribusi terhadap perekonomian lokal.
“Meski ada tekanan global akibat konflik Iran dan Israel-AS, fundamental ekonomi kita tetap kuat. Selain itu, Pemerintah juga berkomitmen tidak menaikkan harga BBM saat ini, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga. Jadi untuk Idulfitri tahun ini diprediksi kita optimis ekonomi bisa lebih baik dari tahun sebelumnya,” jelas Haryo.





