Hidayat Nur Wahid Ingatkan Jemaah Haji Jaga Fisik dan Perkuat Koordinasi Jelang Armuzna

Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026 Hidayat Nur Wahid. Jemaah haji diimbau menjaga kesehatan, membatasi aktivitas, dan memperkuat koordinasi. /PKS
Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026 Hidayat Nur Wahid. Jemaah haji diimbau menjaga kesehatan, membatasi aktivitas, dan memperkuat koordinasi. /PKS

swaranusa.co, JAKARTA — Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026 Hidayat Nur Wahid mengingatkan jemaah haji Indonesia untuk meningkatkan disiplin dalam menjaga kesehatan fisik dan mental menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Selain itu, dia juga meminta penguatan komunikasi dan koordinasi antarkelompok jemaah di tengah meningkatnya kepadatan Kota Makkah.

Pesan tersebut disampaikan Hidayat saat melakukan pengawasan di Future Light Hotel Sektor 9 Misfalah, Makkah akhir pekan lalu, Sabtu (23/5/2026).

Menurutnya, fase menjelang Armuzna menjadi masa penting karena kondisi fisik sebagian jemaah mulai menurun akibat suhu panas tinggi dan aktivitas ibadah yang padat.

“Menjelang Armuzna memang semakin banyak sekali jamaah yang berkumpul di Makkah. Sementara jamaah pun juga mungkin sebagian daripada fisiknya sudah mulai capek,” katanya dikutip melalui situs PKS.

Anggota Komisi VIII DPR RI itu menilai kebijakan petugas haji yang mengarahkan jemaah untuk lebih banyak beristirahat di pemondokan merupakan langkah tepat guna menjaga stamina sebelum memasuki fase utama ibadah haji.

“Saya apresiasi apa yang diputuskan agar jemaah kita pada hari-hari menjelang puncak Armuzna fokus untuk ibadah yang puncak itu, beristirahat di pondokan masing-masing, salat di pondokan masing-masing, tidak kemudian memaksakan diri untuk keluar pemondokan,” jelasnya.

Hidayat juga menyoroti pentingnya perhatian khusus terhadap jemaah lanjut usia.

Menurutnya, kepadatan Makkah dan kondisi cuaca panas dapat meningkatkan risiko kelelahan maupun kebingungan arah bagi jemaah lansia.

“Tidak kemudian memaksakan diri untuk keluar pemondokan, ke Masjidil Haram yang mungkin jalannya tidak sangat dekat, sementara cuacanya sangat panas,” ujarnya

Selain kesehatan fisik, Hidayat yang juga Wakil Ketua MPR RI meminta jemaah memanfaatkan waktu istirahat untuk meningkatkan kesiapan spiritual dan psikologis sebelum menjalani Armuzna.

“Kalau berada di pondokan atau di hotel, agar jangan dipakai hanya untuk ngerumpi, apalagi untuk hanya habis waktu dengan gym atau dengan telepon,” ucapnya.

Hidayat menilai waktu menjelang puncak haji perlu dimanfaatkan untuk memperdalam pemahaman ibadah, memperbanyak doa, serta menjaga kesiapan mental.

“Kesempatan ini dimaksimalkan untuk mempersiapkan diri haji secara lebih maksimal. Baik dalam konteks kesehatan fisik termasuk juga kesehatan mental dan kesehatan psikis,” jelasnya.

Hidayat juga menyoroti kasus meninggalnya jemaah asal Jakarta, Muhammad Firdaus Akhlan (72), yang sebelumnya dilaporkan hilang dari pemondokan sejak 15 Mei 2026 dan ditemukan meninggal dunia di kawasan Jabal Kuday pada 22 Mei 2026.

Menurutnya, kejadian tersebut menjadi pengingat penting mengenai perlunya pengawasan dan komunikasi intensif, terutama bagi jemaah lanjut usia.

“Ini sebagai pelajaran, sebagai ibrah, tentang pentingnya betul-betul selalu menjaga kesehatan, pentingnya betul-betul selalu mengkomunikasikan dengan keluarga, dengan jamaah, dengan karom, dengan karu,” katanya.

Hidayat menekankan koordinasi antara jemaah, ketua rombongan, ketua regu, dan petugas haji harus diperkuat untuk meminimalkan risiko jemaah tersesat di tengah meningkatnya mobilitas menjelang Armuzna.

“Kami sampaikan kepada ibu istri beliau agar mumpung masih ada di tanah haram, masih dalam gerakan haji, untuk memaksimalkan waktunya, memperbanyak doa dan bacaan Al-Quran untuk almarhum,” tuturnya.

Kondisi menjelang Armuzna tahun ini dinilai membutuhkan perhatian lebih karena tingginya mobilitas jemaah, cuaca panas ekstrem, dan kepadatan jutaan jemaah dari berbagai negara.

Oleh karena itu, tambah Hidayat, penguatan kesehatan, pembatasan aktivitas fisik, serta komunikasi antarkelompok menjadi faktor penting demi kelancaran ibadah haji.

Share

Berita Terkait