CASA BRI Tembus Rp1.058 Triliun, Biaya Dana Turun Jadi 2,33 Persen

Nasabah sedang melakukan transaksi melalui ATM BRI. BRI memperkuat pendanaan lewat CASA Rp1.058 triliun, menekan biaya dana menjadi 2,33 persen, dan menjaga pertumbuhan bisnis berkelanjutan. /BRI
Nasabah sedang melakukan transaksi melalui ATM BRI. BRI memperkuat pendanaan lewat CASA Rp1.058 triliun, menekan biaya dana menjadi 2,33 persen, dan menjaga pertumbuhan bisnis berkelanjutan. /BRI

swaranusa.co, JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperkuat struktur pendanaan melalui strategi peningkatan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Langkah tersebut berhasil menekan biaya dana (cost of fund/CoF) sekaligus memperkuat fondasi bisnis perseroan di tengah dinamika ekonomi global.

Hingga Maret 2026, BRI berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.555,1 triliun atau tumbuh 9,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Dari total DPK tersebut, CASA konsolidasian mencapai Rp1.058,6 triliun atau setara 68,07%.

Rasio CASA tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 65,77%. Kenaikan kontribusi dana murah ini turut mendorong efisiensi pendanaan perseroan.

Tercatat, biaya dana BRI turun menjadi 2,33% pada Triwulan I 2026 dari sebelumnya 2,98% pada periode yang sama tahun 2025. Penurunan sebesar 65 basis poin tersebut menunjukkan semakin kuatnya kemampuan BRI dalam mengelola struktur pendanaan secara efisien.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan penguatan CASA menjadi salah satu strategi utama dalam program transformasi bisnis perseroan. Menurutnya, peningkatan dana murah memberikan dampak langsung terhadap efisiensi biaya dana dan kualitas struktur pendanaan.

“Peningkatan CASA memberikan dampak langsung terhadap efisiensi biaya dana dan kualitas struktur pendanaan Perseroan. Adapun tingginya volume transaksi terjadi pada berbagai kanal digital seperti BRImo, QLola by BRI, Business Merchant dan QRIS BRI. Dengan fondasi yang semakin kuat, BRI dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, profitabilitas, dan pengelolaan risiko,” katanya kepada wartawan melalui keterangan pers, dikutip Kamis (9/7/2026).

Menurut Hery, pertumbuhan CASA tidak terlepas dari penguatan ekosistem digital BRI yang mendorong peningkatan aktivitas transaksi nasabah melalui berbagai layanan digital. Penguatan kanal digital tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan dana murah sekaligus memperkuat hubungan dengan nasabah.

Perbaikan struktur pendanaan tersebut turut menopang kinerja BRI secara keseluruhan. Hingga Triwulan I 2026, total aset BRI Group tumbuh 7,2% yoy menjadi Rp2.250 triliun.

Sementara itu, kredit dan pembiayaan BRI Group meningkat 13,7% yoy menjadi Rp1.562 triliun. Pertumbuhan intermediasi tersebut berjalan seiring dengan peningkatan laba bersih konsolidasian yang mencapai Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penguatan fundamental bisnis BRI juga sejalan dengan agenda transformasi perusahaan-perusahaan BUMN yang didorong oleh Danantara. Fokus transformasi diarahkan pada peningkatan efisiensi, penguatan tata kelola, serta perbaikan manajemen risiko agar perusahaan BUMN memiliki daya saing yang lebih tinggi.

Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pelaksana BUMN Dony Oskaria mengatakan transformasi BUMN tidak hanya dilihat dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemampuan perusahaan membangun fondasi yang sehat dan berkelanjutan.

“Danantara hadir untuk memastikan BUMN tidak hanya tumbuh dari sisi skala bisnis, tetapi juga semakin sehat dari sisi tata kelola, efisiensi, dan manajemen risiko. Dengan fondasi yang kuat, BUMN akan memiliki daya saing yang lebih tinggi dan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujar Dony.

Menurut Dony, penguatan manajemen risiko dan tata kelola menjadi fondasi penting agar perusahaan BUMN mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan kondisi ekonomi global.

“Kami ingin membangun risk management dan tata kelola yang kuat karena hanya perusahaan yang dikelola dengan baik yang dapat sustain di masa depan,” tambahnya.

Dengan struktur pendanaan yang semakin efisien, BRI optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat perannya dalam mendukung perekonomian nasional melalui pembiayaan sektor-sektor produktif.

Share

Berita Terkait