BRI Nilai Fundamental Perbankan Kuat di Tengah Tekanan IHSG Nasional

Pertemuan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, COO BPI Danantara Dony Oskaria, Direktur Utama BRI Hery Gunardi, jajaran direktur utama Himbara, BPJS Ketenagakerjaan, serta sejumlah BUMN pekan ini. BRI menilai fundamental perbankan nasional tetap kuat meski IHSG masih berada tertekan. /BRI
Pertemuan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, COO BPI Danantara Dony Oskaria, Direktur Utama BRI Hery Gunardi, jajaran direktur utama Himbara, BPJS Ketenagakerjaan, serta sejumlah BUMN pekan ini. BRI menilai fundamental perbankan nasional tetap kuat meski IHSG masih berada tertekan. /BRI

swaranusa.co, JAKARTA — Perhatian investor terhadap saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali meningkat di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih berada di zona negatif secara year-to-date.

Isu tersebut menjadi salah satu topik pembahasan dalam pertemuan yang melibatkan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, COO BPI Danantara Dony Oskaria, Direktur Utama BRI Hery Gunardi, jajaran direktur utama Himbara, BPJS Ketenagakerjaan, serta sejumlah BUMN di Jakarta pekan ini, Selasa (9/6/2026).

Pertemuan tersebut membahas berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasar modal dan memperkuat kepercayaan investor, termasuk pembahasan mengenai kemungkinan aksi buyback saham oleh emiten BUMN.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menilai meningkatnya perhatian dari berbagai pemangku kepentingan mencerminkan optimisme terhadap prospek jangka panjang perusahaan-perusahaan BUMN, terutama sektor perbankan yang dinilai masih memiliki kinerja dan fundamental yang kuat.

Menurut Hery, stabilitas pasar modal menjadi faktor penting dalam menjaga iklim investasi yang sehat dan berkelanjutan. Industri perbankan nasional tetap mampu menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

“Kepercayaan investor terhadap saham-saham perbankan nasional ditopang oleh kinerja industri yang tetap resilien di tengah dinamika ekonomi global. Industri perbankan masih mencatatkan pertumbuhan kredit yang positif, kualitas aset yang terjaga, serta kondisi likuiditas dan permodalan yang kuat,” katanya kepada wartawan melalui keterangan pers.

Hery yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menyebut fundamental industri perbankan Indonesia masih berada dalam kondisi yang solid.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga April 2026 pertumbuhan kredit perbankan mencapai 9,98% secara tahunan, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,40%.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan masih terjaga dengan baik sekaligus mencerminkan fungsi intermediasi perbankan yang berjalan secara efektif.

“Pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana masyarakat yang tetap kuat menunjukkan kepercayaan publik terhadap industri perbankan masih terjaga dengan baik, sekaligus mencerminkan fungsi intermediasi yang berjalan efektif,” jelasnya.

Bagi BRI, penguatan kepercayaan investor terus dilakukan melalui upaya menjaga kinerja perusahaan secara berkelanjutan.

Perseroan fokus mempertahankan kualitas aset, memperkuat struktur permodalan dan likuiditas, serta menciptakan nilai tambah bagi para pemegang saham dalam jangka panjang.

Terkait wacana buyback saham yang menjadi perhatian pasar, Hery menegaskan bahwa setiap aksi korporasi akan dikaji secara hati-hati dan dijalankan sesuai dengan ketentuan regulator yang berlaku.

“Saat ini fokus utama kami tetap pada penguatan fundamental perusahaan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ungkapnya.

Share

Berita Terkait