Usia 50 Plus Pilih Mobil Listrik Demi Hemat Biaya

Ilustrasi mobil listrik sedang melakukan pengecasan. Kelompok usia 50 tahun ke atas melihat mobil listrik sebagai solusi mobilitas hemat jelang pensiun. /ID Comm
Ilustrasi mobil listrik sedang melakukan pengecasan. Kelompok usia 50 tahun ke atas melihat mobil listrik sebagai solusi mobilitas hemat jelang pensiun. /D COMM

swaranusa.co, JAKARTA — Rutinitas pagi sebagian pekerja di Jabodetabek yang memasuki usia 50 tahun ke atas kini mengalami perubahan.

Jika sebelumnya hari dimulai dengan memanaskan mesin kendaraan atau menghitung biaya bahan bakar, kini perhatian mereka tertuju pada memastikan daya baterai mobil listrik terisi penuh sebelum beraktivitas.

Bagi kelompok usia jelang pensiun ini, mobil listrik bukan sekadar simbol adopsi teknologi baru, melainkan pilihan rasional dalam mengelola keuangan rumah tangga.

Riset ID COMM bertajuk “Menuju Era Mobil Listrik: Sejauh Mana Indonesia Siap?” mengungkap adanya tiga kelompok usia utama pengguna mobil listrik di Indonesia.

Semuanya adalah usia 25–35 tahun, 36–50 tahun, dan kelompok usia 50 tahun ke atas yang selama ini jarang disorot.

Pada fase ketika penghasilan tetap akan berangsur berkurang, kelompok usia 50+ justru menilai mobil listrik sebagai solusi untuk mempertahankan mobilitas dengan biaya operasional yang lebih rendah.

Salah satu responden laki-laki dalam riset tersebut menyebutkan bahwa mobil listrik awalnya dibeli sebagai kendaraan kedua.

Seiring waktu, menjadi kendaraan utama karena kenyamanan dan efisiensi biaya untuk penggunaan harian.

Bagi mereka yang mendekati masa pensiun, keputusan ini lebih didorong oleh pertimbangan pengeluaran jangka panjang dibanding mengikuti tren.

Riset juga mencatat harga mobil listrik yang dimiliki responden berada di kisaran Rp189 juta hingga Rp1,586 miliar.

Kebutuhan mobilitas di wilayah perkotaan tetap tinggi meskipun seseorang memasuki usia pensiun.

Aktivitas seperti mengantar cucu, mengurus keperluan rumah tangga, bersilaturahmi, hingga kegiatan sosial masih menjadi bagian dari keseharian.

Kini, pertimbangannya kini lebih praktis, mulai dari efisiensi biaya bulanan, kemudahan perawatan, hingga keandalan kendaraan tanpa membebani pengeluaran rutin.

“Kami pilih mobil listrik sebagai persiapan pensiun supaya biayanya lebih hemat,” kata seorang pemilik mobil listrik berusia 59 tahun asal Tangerang Selatan yang menjadi responden ID COMM dikutip melalui keterangan pers, Jumat (23/1/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa motif ekonomi menjadi faktor utama adopsi mobil listrik di kelompok usia ini.

Insentif fiskal dan biaya operasional yang lebih rendah menjadikan mobil listrik terasa lebih bersahabat bagi mereka yang ingin menjaga stabilitas keuangan.

Meski isu lingkungan tetap diapresiasi, aspek keamanan, kenyamanan, kemudahan perawatan, serta kepastian biaya menjadi prioritas utama.

Co-Founder dan Director ID COMM Asti Putri mengatakan bahwa pada umumnya, konsumen pemilik mobil listrik adalah para early adopters, yaitu orang-orang yang berani berinvestasi dan berkendara dengan teknologi baru.

“Khusus kelompok usia 50 tahun ke atas, ada faktor unik di mana mereka sadar kegiatan hariannya akan menurun, namun ingin tetap mempertahankan mobilitas dengan biaya relatif hemat,” katanya.

Asti menjelaskan bahwa meskipun harus beradaptasi dengan fitur-fitur mobil listrik, hal ini tidak menghambat keinginan mereka untuk memilikinya.

“Justru hal inilah yang membuat mereka bangga karena bisa mengadopsi tren berkendara dengan cara berbeda,” jelasnya .

Meski demikian, ID COMM mencatat tantangan adopsi mobil listrik masih dirasakan, seperti keterbatasan infrastruktur pengisian daya, kekhawatiran jarak tempuh, serta layanan purna jual.

Tantangan ini dirasakan lintas kelompok usia. Namun, riset menunjukkan arah perubahan yang semakin jelas, di mana mobil listrik kian relevan ketika efisiensi biaya hidup menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan.

Share

Berita Terkait