swaranusa.co, JAKARTA — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM), termasuk sentra IKM alas kaki Ciomas, Kabupaten Bogor, agar mampu bertahan dan bersaing di tengah dinamika ekonomi global dan perubahan perilaku pasar.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa secara umum sentra IKM masih menghadapi tantangan struktural yang menghambat pengembangan usaha.
“Tantangan yang sering dihadapi sentra IKM antara lain keterbatasan akses permodalan dan pasar, rendahnya literasi manajemen usaha dan keuangan, serta kurangnya inovasi produk. Di sisi lain, sentra IKM juga dihadapkan pada perubahan tren pasar yang cepat dan meningkatnya persaingan dengan produk impor,” katanya dikutip melalui situs Kemenperin, Selasa (6/1/2025).
Kondisi tersebut juga ditemui pada sentra IKM alas kaki Ciomas yang dikunjungi Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita pada September 2025.
Berdasarkan dialog dengan para perajin, perubahan perilaku konsumen pascapandemi Covid-19 turut memengaruhi kinerja usaha di sentra tersebut.
Baca juga: Reforma Agraria Jadi Solusi Konflik Agraria Belasan Tahun di Desa Soso
Selain tantangan pasar, isu regenerasi perajin menjadi perhatian serius. Menurut Reni, sebagian besar perajin masih didominasi generasi senior yang membutuhkan penguatan keterampilan dan adaptasi teknologi.
“Karena itu, dibutuhkan peran generasi muda yang lebih adaptif terhadap dinamika pasar dan perkembangan teknologi,” jelasnya.
Di tengah tantangan tersebut, industri alas kaki nasional menunjukkan kinerja positif.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kemenperin mencatat industri alas kaki dan industri kulit tumbuh 8,31% (year on year/YoY) pada triwulan II/2025 dan 0,72% (quarter to quarter/QtQ) pada triwulan III-2025.
Nilai investasi industri alas kaki juga mencapai lebih dari Rp18 triliun sepanjang Januari–September 2025.
“Kinerja ekspor industri alas kaki Indonesia juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 11,89% pada periode Januari–Agustus 2025, serta menempatkan Indonesia di peringkat keenam dunia sebagai negara eksportir alas kaki,” kata Reni.
Untuk memperkuat sentra IKM alas kaki Ciomas, Ditjen IKMA menggandeng Direktorat IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan (IKM KSK), Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI), serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bogor melalui serangkaian program pembinaan.
Baca juga: Kemenhub Catat Penumpang Angkutan Umum Nataru Naik 12,48%
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan menyampaikan bahwa pada akhir 2025 telah dilaksanakan tiga kegiatan utama, yaitu peningkatan literasi digital, bimbingan teknis, dan pendampingan mentor dari perguruan tinggi.
“Pembinaan ini bertujuan agar perajin semakin familiar dengan pemasaran digital, memiliki pemahaman desain dan pola alas kaki terkini untuk mendorong inovasi produk, serta mampu mengelola usaha secara lebih efisien,” ujar Budi.
Program pembinaan tersebut diikuti oleh 14 perajin sentra IKM alas kaki Ciomas dan mencakup pelatihan pemasaran digital, strategi berjualan di lokapasar, fotografi produk, hingga bimbingan teknis desain alas kaki.
Pendampingan lanjutan oleh mentor dari Universitas Prasetiya Mulya akan berlangsung hingga 2026.
Ke depan, Kemenperin mendorong perajin untuk memanfaatkan berbagai fasilitas pemerintah, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Industri Padat Karya (KIPK), layanan konsultasi teknis BPIPI, serta program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan IKM guna meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi.





