JAKARTA — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama bekerja sama dengan Alvara Strategic Research merilis Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025. Hasil survei menunjukkan tren positif kehidupan beragama umat Islam, terutama di kalangan generasi muda.
Survei tersebut mencatat tingkat toleransi beragama Generasi Z (Gen Z) berada di atas generasi Milenial, Generasi X, dan Baby Boomers.
Selain itu, Gen Z juga menjadi kelompok dengan kemampuan membaca Al-Qur’an tertinggi dibandingkan generasi lainnya.
Temuan ini dinilai sebagai sinyal optimisme bagi masa depan kehidupan beragama di Indonesia.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama Arsad Hidayat menyambut baik hasil survei tersebut dan menilai temuan ini penting sebagai rujukan kebijakan.
“Hasilnya cukup menggembirakan dan memberikan optimisme. Laporan ini idealnya menjadi acuan bagi para pengambil kebijakan untuk merumuskan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas kehidupan beragama di tanah air,” katanya dikutip melalui situs Kemenag, Kamis (1/1/2025).
Arsad menjelaskan bahwa hasil survei ini sejalan dengan visi Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam penguatan sumber daya manusia dan kerukunan sosial.
“Fokus utamanya adalah membangun sumber daya manusia yang unggul sekaligus memperkokoh kerukunan dan cinta kemanusiaan sebagai fondasi stabilitas nasional,” jelasnya.
Arsad menerangkan bahwa capaian positif generasi muda perlu terus dijaga agar menjadi karakter permanen bangsa.
“Penguatan aspek yang sudah baik, seperti toleransi dan literasi kitab suci pada generasi muda, harus terus dikawal agar menjadi karakter permanen bangsa,” terangnya.
Peneliti Alvara Strategic Research Lilik Purwandi menyebut bahwa Gen Z memiliki posisi strategis sebagai motor penggerak menuju Indonesia Emas 2045.
Survei ini, menurutnya, mencatat sejumlah indikator penting yang memperkuat optimisme tersebut.
Pada aspek literasi Al-Qur’an, indeks kemampuan membaca Al-Qur’an dengan tartil Gen Z tercatat sebesar 56,29, tertinggi dibandingkan Milenial (54,06), Generasi X (53,97), dan Baby Boomers (50,95).
Di sisi toleransi beragama, Gen Z juga mencatat skor tertinggi pada indikator sikap tidak membubarkan kegiatan keagamaan pihak lain dengan indeks 80,03. Angka ini melampaui Milenial (78,77), Generasi X (78,97), dan Baby Boomers (78,81).
Secara keseluruhan, indeks pengamalan toleransi Gen Z mencapai 79,65, sedikit di bawah Generasi X (79,67), namun lebih tinggi dibandingkan Milenial (79,07) dan Baby Boomers (78,63).
Indikator toleransi mencakup sikap menerima pelaksanaan ibadah agama lain, tidak mencela, tidak melakukan persekusi, serta tidak menyebarkan ujaran kebencian.
“Data ini menunjukkan Gen Z memiliki kedewasaan sikap yang luar biasa dalam menghargai perbedaan. Mereka adalah generasi yang paling menolak praktik persekusi atau pembubaran kegiatan keagamaan pihak lain,” ujar Lilik.
Survei juga menyoroti potensi positif kehidupan beragama di wilayah perkotaan yang didominasi generasi muda.
Meski indeks dimensi ibadah masyarakat urban (78,38) sedikit lebih rendah dibandingkan perdesaan (79,37), pemahaman keagamaan yang kuat dinilai menjadi modal penting bagi penguatan spiritual ke depan.
“Gen Z dan Milenial adalah pilar masa depan. Walaupun terdapat tantangan dalam pengamalan ibadah harian, modal intelektual melalui pemahaman Al-Qur’an dan sikap toleransi yang matang merupakan aset besar bagi kohesi sosial,” kata Lilik.
Survei ini menggunakan pendekatan kuantitatif berskala nasional dengan melibatkan 1.208 responden Muslim di 34 provinsi.
Metode yang digunakan adalah multistage random sampling melalui wawancara tatap muka langsung, dengan margin of error sebesar 2,89 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Secara nasional, Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 tercatat sebesar 78,80 dan masuk kategori tinggi. Dimensi akhlak menjadi aspek dengan skor tertinggi, yakni 81,88. (PRB)





