Reforma Agraria Antar Gula Semut Kulon Progo Tembus Pasar Global

Masyarakat Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo sedang mengolah gula semut untuk diekspor. /BPN
Masyarakat Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo sedang mengolah gula semut untuk diekspor. /BPN

JAKARTA — Kolaborasi lintas sektor dalam pelaksanaan Reforma Agraria membuahkan hasil nyata bagi masyarakat Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo.

Program ini tidak hanya menghadirkan kepastian hukum atas tanah, tetapi juga mendorong peningkatan ekonomi desa hingga produk unggulannya, gula semut, berhasil menembus pasar internasional.

Sejak Reforma Agraria dilaksanakan di Desa Hargorejo, aktivitas ekonomi masyarakat mengalami peningkatan signifikan.

Produk gula semut yang sebelumnya hanya dipasarkan secara lokal kini mampu bersaing di pasar global, mencerminkan keberhasilan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.

Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kabupaten Kulon Progo Iffah Mufidati mengatakan bahwa program Reforma Agraria merupakan bentuk sinergi yang sangat produktif dan kolaboratif.

“BPN tidak hanya memberikan sertifikat tanah, tapi juga membuka jalan bagi masyarakat untuk berdaya secara ekonomi di Desa Hargorejo,” katanya dikutip melalui keterangan pers, Selasa (30/12/2025).

Iffah menjelaskan bahwa legalitas tanah melalui sertifikat yang diterbitkan ATR/BPN memberikan kepastian hukum sekaligus membuka akses permodalan bagi masyarakat.

Setelah itu, pemerintah daerah melakukan pendampingan usaha agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas, kuantitas, dan kontinuitas yang terjaga.

“Dengan legalitas tanah yang kuat berkat sertifikat, akses permodalan terbuka menjadi lebih mudah. Setelah itu, kami dampingi usaha mereka agar kuat dari sisi kualitas, kuantitas, dan kontinuitas,” jelasnya.

Dalam mendukung pengembangan usaha, Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kabupaten Kulon Progo turut membantu pelaku UMKM dalam pengurusan legalitas usaha dan standar produk.

Pendampingan meliputi penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB), izin PIRT, sertifikasi halal, hingga penerapan standar HACCP sebagai prasyarat ekspor.

Keberhasilan ini juga ditopang oleh kolaborasi berbagai pihak dalam skema pentahelix, yang melibatkan akademisi, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan media.

Menurut Iffah, pendekatan kolaboratif menjadi kunci agar pengembangan ekonomi desa dapat berkelanjutan.

“Tidak mungkin pendampingan dilakukan sendirian. Kita perlu melibatkan semua unsur dalam skema pentahelix agar hasilnya berkelanjutan,” tuturnya.

Dukungan sektor swasta juga berperan penting dalam penguatan kapasitas pelaku usaha.

PT Nira Lestari hadir sebagai mitra pendamping yang mendorong kemandirian masyarakat, sehingga pelaku UMKM tidak bergantung secara berkelanjutan.

“Kami melihat peran PT Nira Lestari sebagai mentor sangat penting. Mereka membantu masyarakat untuk mandiri,” tambah Iffah.

Sementara itu, Lurah Hargorejo Bhekti Murdayanto menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor dalam Reforma Agraria memberikan dampak positif bagi desa.

Pendampingan dari berbagai pihak, termasuk BPN, telah mendorong pengembangan produk unggulan desa secara berkelanjutan.

“Kami bekerja sama dengan berbagai pihak, baik swasta maupun pemerintah. Untuk produk gula semut ini, salah satunya melalui pendampingan dari BPN,” ujarnya.

Kini, Desa Hargorejo berkembang menjadi contoh keberhasilan Reforma Agraria berbasis kolaborasi.

Dari wilayah perbukitan yang sebelumnya memiliki keterbatasan, lahir produk bernilai tambah tinggi yang mampu mengangkat perekonomian masyarakat dan memperluas akses pasar hingga tingkat global. (PRB)

Share

Berita Terkait