swaranusa.co, JAKARTA — Menjelang pelaksanaan utama Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober hingga 8 November 2026, persiapan teknis maupun administratif terus dimatangkan secara intensif di berbagai daerah.
Pemantauan kesiapan ini mencakup ketersediaan infrastruktur jaringan internet, pemahaman sumber daya manusia (SDM) di lapangan, hingga penanaman nilai-nilai integritas guna memastikan objektivitas hasil ujian secara menyeluruh.
Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Erni Mawarni, memastikan bahwa mayoritas satuan pendidikan tingkat SMK di wilayah ibu kota telah siap sepenuhnya untuk menyelenggrakan TKA 2026. Hal ini didasarkan pada serangkaian tahapan simulasi dan gladi bersih yang telah sukses dilaksanakan.
“Untuk pelaksanaan TKA SMK tahun 2026, untuk kesiapan sekolah di DKI Jakarta pada dasarnya sudah siap. Simulasi dan gladi bersih sudah dijalankan. Dan dari pemantauan kami per tanggal 20 Oktober 2026, sekitar 94% sekolah sudah siap dari sisi perangkat, jaringan, dan penjadwalan,” katanya saat dihubungi, Rabu (21/10/2026).
Selain aspek teknis perangkat keras, Erni menekankan bahwa keberhasilan pelaksanaan TKA juga sangat bergantung pada kesiapan SDM di lapangan serta ketertiban administrasi masing-masing sekolah.
“Kemudian, aspek lain selain perangkat dan jaringan, sekolah juga perlu memastikan tiga hal seperti SDM yang paham prosedur, seperti proktor, teknisi, pengawas ruangan. Kemudian administrasi yang tertib dan kesiapan peserta didik sendiri,” paparnya.
Dinas Pendidikan DKI Jakarta turut menyoroti krusialnya faktor integritas dalam perhelatan TKA. Pengawasan berlapis akan diberlakukan secara ketat demi mencegah segala bentuk potensi kecurangan.
“Pentingnya integritas, yaitu hasil TKA hanya berguna kalau mencerminkan kemampuan murid yang sebenarnya. Kalau ada kecurangan, datanya tidak bisa dipakai untuk menilai atau memperbaiki apapun,” ungkap Erni.
Sebagai langkah preventif, sosialisasi kejujuran serta mekanisme pengawasan berlapis telah disiapkan secara matang.
“Kemudian untuk menanamkan kejujuran kepada peserta didik, kami meminta sekolah menyampaikan pesan kejujuran lewat kepala sekolah, wali kelas, dan guru sebelum ujian,” tambahnya.
Erni menerangkan bahwa mekanisme pengawasan pengawasan berlapis juga dilakukan.
Beberapa di antaranya adalah pengawasan ruang di sekolah, pemantauan oleh di dinas dan penyelia dari pihak luar, serta jalur pelaporan jika ada indikasi pelanggaran.
“Untuk komitmen dan harapan, kami ingin TKA berjalan lancar sekaligus jujur supaya hasilnya objektif dan kredibel. Kami berharap semua pihak menjaga integritas sampai ujian selesai. Terima kasih,” ungkapnya.
Uji Skema Ujian Sebenarnya di Gianyar
Kesiapan serupa juga terpantau di Kabupaten Gianyar, Bali. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar, I Wayan Mawa, menyampaikan bahwa pelaksanaan gladi bersih untuk jenjang SD dan SMP di wilayahnya berjalan lancar tanpa kendala berarti.
Ia menyoroti pentingnya fase ini sebagai uji coba komprehensif yang memiliki esensi berbeda dari sekadar simulasi awal.
“Perbedaan simulasi dan gladi bersih adalah simulasi berfokus untuk mengecek infrastruktur dasar di sekolah, sedangkan gladi bersih dilaksanakan dengan skema dan kondisi yang sangat mendekati ujian sebenarnya untuk menguji sistem pusat, prosedur, dan kesiapan peserta, petugas,” jelasnya.
Menurutnya, keterlibatan aktif siswa dalam gladi bersih sangat penting agar mereka memiliki adaptasi mental yang baik dan tidak gagap teknologi saat hari pelaksanaan utama.
“Pelaksanaan gladi bersih berjalan dengan lancar semua satuan pendidikan jenjang SD dan SMP melaksanakan gladi bersih dengan melibatkan siswa tanpa ada kendala tujuannya, memastikan kesiapan sistem, perangkat yang digunakan dan siswa sebelum pelaksanaan utama,” ujarnya.
“Manfaat bagi murid tentunya siswa terlebih dahulu dikenalkan seperti apa alur pelaksanaan TKA sehingga nanti saat pelaksanaan siswa sudah terbiasa menjalankan aplikasi tersebut,” tambah Mawa.
Bagi para petugas dan pengelola di sekolah, Mawa menerangkan bahwa gladi bersih sekaligus menjadi ajang pembuktian atas kesiapan sarana prasarana serta pemahaman teknis tugas pengawasan.
“Yang perlu diperhatikan dari sisi perangkat, jaringan, aplikasi ialah memastikan ketersediaannya sudah memadai untuk dipakai dan diuji coba oleh siswa dan untuk kesiapan petugas supaya mereka tahu seperti apa tugas-tugas mereka dari mulai menyalakan perangkat hingga mengawasi pelaksanaan,” terangnya.
Lebih jauh, Wayan Mawa menegaskan bahwa potensi kendala teknis yang ditemukan selama masa gladi bersih justru menjadi masukan berharga agar tidak terulang pada saat ujian utama, khususnya yang berkaitan dengan kestabilan server pusat.
“Salah satu tujuan gladi bersih ialah menemukan kendala sehingga saat pelaksanaan dapat diminimalisir kalau itu kendala teknis dari server pusat sudah dapat dipastikan tidak akan bisa mengerjakan karena itu masalahnya di pusat,” paparnya.
Menutup keterangannya, ia mengimbau agar seluruh ekosistem pendidikan di daerahnya dapat memanfaatkan momentum gladi bersih ini dengan sebaik-baiknya.
“Diharapkan satuan pendidikan dan siswa memanfaatkan pelaksanaan gladi bersih tersebut sehingga dalam pelaksanaan utama nanti sudah siap secara teknis dan mental bagi siswa,” ungkapnya.





