swaranusa.co, JAKARTA — Tren penanaman modal di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia diperkirakan masih akan terus menunjukkan grafik peningkatan yang stabil.
Tingginya ketergantungan kebutuhan energi,baik di tingkat domestik maupun global, terhadap bahan bakar fosil ditambah dengan berbagai tantangan keekonomian dalam proses transisi energi membuat sektor hulu migas tetap menjadi magnet investasi yang sangat krusial.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, memproyeksikan adanya kenaikan investasi hulu migas pada tahun 2026 yang mampu melampaui realisasi capaian tahun sebelumnya, dengan estimasi tingkat pertumbuhan sekitar 4 persen.
Stabilitas aliran investasi ini sangat dipengaruhi oleh posisi strategis migas yang hingga kini belum tergantikan sebagai sumber energi utama dunia.
Selain itu, dinamika kebijakan negara-negara ekonomi besar seperti Amerika Serikat yang masih mempertahankan keberpihakan pada bahan bakar fosil turut memberikan pengaruh signifikan bagi negara berkembang seperti Indonesia.
Di sisi lain, wacana percepatan transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT), yang salah satunya ditandai oleh target ambisius pembangunan 100 GW panel surya oleh pemerintah, diakui akan mengubah lanskap sektoral energi nasional.
Namun, Faisal mengingatkan bahwa proses peralihan tersebut tidak dapat dieksekusi secara instan karena terbentur oleh realitas ekonomi yang kompleks di lapangan.
“Saya memperkirakan juga tidak akan bisa cepat ya transisi ini karena ada realita yang harus dihadapi,terutama dalam hal manajemen kebijakan, masalah cash flow, profitabilitas daripada BUMN terkait, baik itu PLN terutama yang kaitannya dengan listrik. Ditambah lagi dengan kondisi daya beli masyarakat yang sekarang masih relatif lemah, sehingga kebijakan energi akan mempertimbangkan masalah affordability(keterjangkauan) yang mana faktanya pada saat sekarang memang fossil fuel itu masih lebih murah dibandingkan dengan energi baru terbarukan,” katanya saat dihubungi.
Faisal menjelaskan bahwa dorongan untuk mempercepat transisi ke energi hijau justru berpotensi terjadi ketika harga minyak mentah global melambung tinggi akibat eskalasi krisis geopolitik, yang membuat bahan bakar fosil kehilangan keunggulan harga komparatifnya.
Terlepas dari dinamika transisi tersebut, Faisal menekankan bahwa realisasi kelancaran investasi hulu migas di tanah air masih kerap terganjal oleh hambatan klasik, yakni kerumitan perizinan lintas sektoral serta tingkat kemudahan berusaha (ease of doing business) yang belum optimal.
Lebih lanjut, CORE Indonesia turut menyoroti pentingnya menjaga distribusi efek berganda (multiplier effect) dari arus investasi hulu migas yang masuk ke daerah.
Mengingat karakteristik industri hulu migas yang tergolong padat modal (capital intensive) serta sarat akan penggunaan efisiensi teknologi, pemerintah diminta agar tetap memprioritaskan penciptaan lapangan kerja dan perputaran roda ekonomi di tingkat lokal.
“Arah kebijakan perlu tetap mengusahakan semaksimal mungkin dampak multiplier effect bagi ekonomi, terutama ekonomi di daerah dalam hal penciptaan lapangan pekerjaan. Artinya perubahan teknologi yang berujung pada efisiensi tetap harus mempertahankan trickle-down effect terhadap ekonomi lokal, dan pelibatan pelaku serta tenaga kerja setempat itu tetap krusial,” jelasnya.





