Pusat Data AI BDx di Jatiluhur Diminta Pakai Energi Terbarukan dan Konservasi Hulu

Rencana pembangunan pusat data PT BDx Indonesia di Jatiluhur, Jawa Barat. Eks Menteri LH Alexander Sonny Keraf tegaskan pusat data AI BDx di Jatiluhur harus disuplai energi terbarukan dan jaga konservasi hulu air serta e-waste. /BDx
Rencana pembangunan pusat data PT BDx Indonesia di Jatiluhur, Jawa Barat. Eks Menteri LH Alexander Sonny Keraf tegaskan pusat data AI BDx di Jatiluhur harus disuplai energi terbarukan dan jaga konservasi hulu air serta e-waste. /BDx

swaranusa.co, JAKARTA — Pembangunan Pusat Data (Data Center) kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) oleh PT BDx Indonesia di kawasan Jatiluhur, Jawa Barat, dinilai sebagai langkah strategis untuk menangkap peluang kedaulatan data nasional sekaligus regional.

Namun, pakar lingkungan hidup sekaligus mantan Menteri Lingkungan Hidup, Alexander Sonny Keraf, mengatakan bahwa operasional fasilitas padat energi ini mutlak harus ditopang oleh suplai listrik dari energi baru terbarukan (EBT) serta jaminan pelestarian sumber daya air yang ketat.

Kehadiran pusat data berskala besar diketahui membutuhkan pasokan listrik yang sangat masif, sehingga berisiko melonjakkan jejak karbon apabila masih bergantung pada sumber daya pembangkit listrik berbasis energi fosil.

“Poin pertama dari sisi lingkungan adalah soal suplai energi. Tidak ada kompromi, harus dari energi terbarukan. Kita bisa mengukur apakah kapasitas produksi energi dari panel surya di permukaan bendungan Jatiluhur memadai untuk kebutuhan data center tersebut. Jangan sampai kita menyedot listrik dari jaringan yang masih disuplai fosil di tengah upaya global memerangi emisi karbon,” katanya saat dihubungi.

Merespons komitmen pihak BDx yang mengusung teknologi utilitas mandiri serta sistem sirkulasi air tertutup (closed-loop), Sonny menilai hal tersebut sebagai pendekatan yang tepat untuk mencapai efisiensi operasional.

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa titik krusial perlindungan neraca air tidak hanya terletak di dalam area fasilitas, melainkan harus dimulai dari kawasan hulu.

Perlu diketahui, wilayah Jatiluhur merupakan urat nadi utama penopang pasokan air bagi masyarakat Jawa Barat hingga DKI Jakarta.

Oleh karena itu, investor bersama pemerintah daerah wajib berkolaborasi secara nyata untuk memastikan kawasan hulu bendungan betul-betul dikonservasi secara ketat.

“Harus dipastikan debit air di Jatiluhur tidak terganggu. Jika pusat data menyedot air dari sana, konservasi hulunya harus sangat ketat agar sumber air publik tidak berkurang,” paparnya.

Lebih jauh, Sonny turut menyoroti kesiapan infrastruktur dalam pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang kelak dihasilkan dari siklus pergantian perangkat keras server (e-waste).

Pemilihan lokasi pembangunan di Jawa Barat dinilai cukup menguntungkan secara logistik karena kedekatannya dengan fasilitas Pusat Pengelolaan Limbah Industri (PPLI), sehingga limbah B3 dari pusat data dapat dikirim dan diolah sesuai protokol lingkungan yang ketat.

Share

Berita Terkait