Kemenag Matangkan Metode Baca Al-Qur’an Khas Indonesia Inklusif

Pertemuan lanjutan penyusunan metode baca Al-Qur’an yang digelar Rabu (28/1/2026). Kemenag menyusun metode baca Al-Qur’an baru sebagai referensi tambahan yang inklusif dan khas Indonesia. /Kemenag
Pertemuan lanjutan penyusunan metode baca Al-Qur’an yang digelar Rabu (28/1/2026). Kemenag menyusun metode baca Al-Qur’an baru sebagai referensi tambahan yang inklusif dan khas Indonesia. /Kemenag

swaranusa.co, JAKARTA — Direktorat Pesantren Kementerian Agama terus memfinalisasi penyusunan metode baca Al-Qur’an melalui pertemuan lanjutan yang digelar Rabu (28/1/2026).

Pembahasan ini menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan alternatif metode pembelajaran Al-Qur’an yang inklusif, berciri khas Indonesia, serta memperkaya khazanah keilmuan yang telah berkembang di masyarakat.

Direktur Pesantren Kementerian Agama Basnang Said mengatakan bahwa metode baca Al-Qur’an yang tengah disusun tidak dimaksudkan untuk menggantikan atau meniadakan metode yang telah ada sebelumnya.

“Ini adalah ikhtiar negara untuk menghadirkan satu metode tambahan sebagai wacana keilmuan, sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam mengajarkan dan mempelajari Al-Qur’an, khususnya bagi anak-anak,” katanya dikutip melalui situs Kemenag, Sabtu (31/1/2026).

Basnang berharap, rancangan metode tersebut segera dirampungkan dalam bentuk draf utuh agar dapat diperkenalkan kepada publik melalui mekanisme uji publik maupun forum diskusi terbuka.

“Bisa melalui uji publik atau forum pengenalan program, agar masyarakat mengetahui bahwa Kementerian Agama tengah menyusun metode baca Al-Qur’an yang bermanfaat dan terbuka terhadap masukan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa proses penyusunan metode ini melibatkan berbagai unsur pakar dan praktisi Al-Qur’an, termasuk Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, untuk memastikan kualitas, ketepatan, serta kesesuaian dengan kaidah keilmuan Al-Qur’an dan tradisi keislaman Nusantara.

“Kami ingin metode ini benar-benar kokoh secara keilmuan, khas Indonesia, dan merepresentasikan praktik Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang hidup di tengah masyarakat. Karena itu, masukan dari para kiai, ulama, dan masyarakat sangat kami harapkan,” lanjutnya.

Kepala Subdirektorat Madrasah Diniyah Takmiliyah dan Pendidikan Al-Qur’an Direktorat Pesantren Kemenag M. Aziz Syafiuddin menyampaikan bahwa forum tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Kementerian Agama dalam menghadirkan metode pembelajaran Al-Qur’an yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Share

Berita Terkait