Air Mata dari Hutan yang Hilang, Mengapa Banjir Sumatera Terus Membunuh?

Padang, Sumatera Barat – Ketika hujan lebat mengguyur wilayah hulu Pegunungan Bukit Barisan, warga di hilir tidak lagi merasakan kesejukan, melainkan ketakutan yang mencekam. Banjir bandang, yang oleh masyarakat Minangkabau disebut galodo, kini bukan lagi sekadar air meluap, melainkan “dinding air” yang membawa lumpur, batu, dan sisa-sisa kayu.

Bencana yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga wilayah Jambi dalam beberapa tahun terakhir telah menewaskan puluhan orang, menghancurkan infrastruktur, dan melumpuhkan ekonomi. Namun, para ahli sepakat: tragedi yang berulang ini bukanlah murni bencana alam, melainkan bencana ekologis yang disiapkan oleh tangan manusia.

Memahami “Dinding Air” dari Hulu

Musibah terbaru yang melanda daerah seperti Agam atau Tanah Datar adalah contoh paling nyata. Dalam hitungan jam, sungai-sungai yang tenang berubah menjadi monster yang menyeret apa pun yang dilewatinya.

“Dulu, air datang perlahan. Sekarang? Ia datang seperti tsunami dari darat,” tutur Rahmat (55), seorang petani di dekat Padang yang kehilangan sebagian sawahnya akibat erosi. “Kami tahu, hutannya sudah tidak ada lagi. Pohon-pohon besar yang dulu menahan air di atas, sudah jadi uang.”

Hutan: Dari Spons Raksasa Menjadi Permukaan Keras

Akar masalahnya terletak pada deforestasi masif di kawasan hulu. Dr. Surya Dharma, seorang hidrolog dari Universitas Andalas, menjelaskan fenomena ini:

“Hutan tropis di Sumatera, terutama di lereng curam, berfungsi sebagai spons raksasa. Tanah gambut dan akar pohon menyerap air hujan. Ketika tutupan hutan alam hilang—diubah menjadi perkebunan monokultur atau dibabat untuk pertambangan—tanah menjadi padat. Air hujan tidak meresap, tetapi 100% lari ke bawah. Ini menghasilkan ‘debit puncak’ sungai yang sangat tinggi dalam waktu singkat, yang kita rasakan sebagai banjir bandang.”

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa kawasan hutan di beberapa DAS kritis Sumatera telah turun drastis, jauh di bawah ambang batas aman 30%. Ini diperparah oleh izin-izin alih fungsi lahan yang diberikan di area yang sebenarnya berfungsi sebagai zona penyangga ekosistem.

Kegagalan Politik di Hilir

Kerusakan di hulu diperparah oleh kebijakan tata ruang yang abai di hilir. Di kota-kota seperti Medan, Padang, atau Pekanbaru, bantaran sungai telah diserobot untuk pembangunan permukiman, pertokoan, dan infrastruktur.

Sungai, yang secara alamiah memiliki ruang luapan saat debit tinggi, dipaksa menyempit.

“Setiap kali terjadi pembangunan di pinggir sungai, itu sama saja dengan mengurangi kapasitas tangkap alami sungai,” ujar Ir. Budi Santoso, seorang perencana tata ruang. “Kita membangun di jalur air. Akibatnya, air akan mengambil kembali jalurnya, dan kita menyebutnya bencana.”

Perubahan Iklim: Akselerator Tragedi

Faktor ketiga yang tidak bisa diabaikan adalah perubahan iklim global. Sumatera kini mengalami anomali cuaca yang intens. Pola curah hujan tidak lagi merata; hujan ekstrem, yang seharusnya datang dalam intensitas ringan hingga sedang selama seminggu, kini datang dalam bentuk badai singkat dengan volume air yang masif.

Ketika curah hujan yang luar biasa tinggi ini menghantam DAS yang sudah gundul, bencana ekologis pun tidak terhindarkan. Banjir tidak hanya membawa air, tetapi juga sedimen, kayu ilegal, dan material longsoran yang mempercepat pendangkalan sungai di hilir.

Mencari Solusi di Tengah Keterpurukan

Saat ini, fokus utama pemerintah daerah adalah respons reaktif: evakuasi, logistik, dan normalisasi sungai. Namun, banyak aktivis dan ahli lingkungan mendesak adanya transformasi struktural dalam kebijakan.

  • Penegakan Hukum Tegas: Mendesak penegakan hukum yang keras terhadap perusahaan atau individu yang terlibat dalam illegal logging dan perambahan hutan di kawasan hulu.

  • Rehabilitasi Berbasis Ekosistem: Mengganti metode reboisasi yang hanya menanam pohon cepat tumbuh dengan program rehabilitasi DAS yang melibatkan penanaman spesies endemik yang mampu mengikat tanah secara efektif.

  • Audit Izin Lahan: Melakukan audit menyeluruh terhadap izin-izin perkebunan dan pertambangan di zona hulu dan kawasan lindung yang terbukti memicu bencana.

Banjir Sumatera adalah cerita tentang pilihan—pilihan untuk memprioritaskan keuntungan jangka pendek atas keberlanjutan ekologis. Selama hutan-hutan di Bukit Barisan terus menghilang demi rupiah, air mata yang tumpah dari langit akan terus diteruskan menjadi bencana yang menghancurkan kehidupan di hilir. Sumatera sedang mengajukan pertanyaan mendasar kepada kita semua: Berapa harga yang harus kita bayar untuk hutan yang telah kita hilangkan?

Share

Berita Terkait